beberapa waktu yang lalu jika kita perhatikan banyak kasus yang berkaitan dengan dokumen, arsip. Dari kasus artis lokal yang berbeda antara lisan dengan data yang tertera dalam sebuah dokumen, hingga tokokh sekaliber presiden negara adikuasa yang dipaksa untuk memperlihatkan dokumen akta lahirnya. Sebetulnya, kasus yang membelit beberapa public figure yang kemudian membawa dokumen (arsip) keabsahan atas suatu peristiwa sudah banyak diekspos. Hanya saja, kita yang mengaku belajar banyak tentang dokumen (arsip), lebih enjoy dan lebih semangat dengan sensasi-sensasi informasinya.
Perbedaan antara sumber lisan dengan sumber data atau dokumen menimbulkan pertanyaan, yang manakah yang patut kita jadikan acuan utama? Terlepas dari apakah dokumen (arsip) itu mengandung unsur rekayasa atau tidak, kita, yang pernah memperlajari secara lebih spesifik tentang dokumen (arsip) tentu dituntut untuk menjawab secara lebih ilmiah.Dokumen (arsip) tercipta karena adanya suatu kegiatan atatu peristiwa, entah terjadi dalam lingkup kelompok maupun individu. Dokumen (arsip) tentu dibuat oleh suatu lembaga, organisasi resmi yang diakui keberadaan dan kemanfaatannya oleh masyarakat luas. Hal ini yang seharusnya diperhatikan ketika terjadi kontroversi perbedaan antara sumber lisan dengan sumber dokumen (arsip).
Maraknya kasus yang kemudian mengetengahkan sumber dokumen (arsip) sebagai alat bukti yang kuat, seharusnya menjadikan kesadaran masyarakat akan pentingnya dokumen (arsip) semakin meningkat. hal ini juga seharusnya menjadi pemacu semangat para pakar arsip maupun dokumen untuk lebih giat memperdalam dan menyebarluaskan ilmunya hingga masyarakat akar rumput.
Perkembangan teknologi yang semakin marak hingga ke ranah ilmu kearsipan dan dokumentasi tidak serta merta menjadikan dokumen (arsip) konvensional atau tekstual dengan elektronik menjadi dipertentangkan. Masing-masingnya memiliki kelemahan dan kelemahan. Tugas kita adalah bagaimana mengelola keduanya agar memunculkan kebermanfaat dan keoptimalan lebih.
Jumat, 06 Mei 2011
Senin, 11 April 2011
Coretan 12
Kearsipan dikenal banyak ditemui di instansi, lembaga, organisasi dengan skala cukup besar, entah di tingkat pusat maupun daerah, baik yg bersifat privat maupun milik pemerintah. Kesadaran akan pentingnya arsip hanya ditanamkan pada lingkup yang penulis sebutkan sebelumnya. Jika pun ada yang hingga tingkat individu, hanya sebatas perkara ijazah, sertifikat maupun surat2 berharga milik pribadi. Lalu bagaimana dengan lingkup organisasi atau lembaga mahasiswa maupun kepemudaan?Bukankah dari dua lingkungan itu juga bibit unggul tokoh penting di lingkup masyarakat hingga negara di bina? Sudah pahamkah mereka akan pentingnya arsip terutama bagi jalannya roda organisasi atau lembaga tempat mereka memperjuangkan idealismenya?
Organisasi atau lembaga mahasiswa maupun kepemudaan dinilai cukup banyak berperan dalam roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Idealisme mahasiswa untuk membangun masyarakat yang lebih maju dan beradab, yang aksinya dikelola dalam suatu kelompok yang terlembaga hingga melahirkan perubahan yang cukup signifikan, tidak jarang justru lebih cekatan dan konkret dari para birokrat. Namun, acapkali semangat idealisme berlembaga, berorganisasi, beramal jama'i menjadi kendur, hingga hasil pahitnya adalah vakumnya suatu lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan dalam jangka waktu tertentu.
Apabila suatu ketika, ada generasi yang berniat menggerakkan dan menghidupkan kembali suatu lembaga atau organisasi, bukan tidak mungkin mereka akan bertanya banyak hal pada si pelaku sejarah secara langsung. Namun, mengetahui jejak langkah suatu organisasi atau lembaga, apalagi organisasi pergerakan, tidak hanya bertanya pada si pelaku sejarah. Di sinilah seharusnya peran arsip dan dokumentasi dimainkan. Dalam teori umum yang dikenal dalam bidang kearsipan, suatu organisasi atau lembaga pastilah memiliki tugas pokok dan fungsi, atau visi dan misi. Visi dan misi ini kemudian di break down menjadi kegiatan2 konkret yang diharapkan membawa banyak manfaat. Ketika suatu kegiatan dimunculkan, sudah pasti melibatkan serangkaian proses administrasi, seperti penyusunan proposal kegiatan, tata persuratan (yang terjadi selama organisasi itu mewujud), transaksi2 finansial maupun non-finansial, notulen2 rapat, dan sebagainya. Hasil dari proses administrasi itu sebagian besarnya menjadi arsip lembaga atau organisasi. Bahkan ketika kegiatan itu dimulai, ada proses pendokumentasian seperti foto dan video. Hingga pada akhir kegiatan maupun kepengurusan lembaga, ada rangkaian pembuatan laporan pertanggungjawaban. Serangkaian proses tadi tentu tidak berjalan sekali dua kali, tapi selama lembaga atau organisasi itu ada, eksis, mewujud, selama itu pula kearsipan terus ada di dalamnya.
Lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan yang kurang paham atau kurang menyadari dan bahkan tidak tahu masalah kearsipan maupun tata administrasi akan berakibat sangat fatal. Meski generasi baru memiliki semangat berjuang untuk menghidupkan organisasi atau lembaga, tapi mereka tidak memahami jalan gerak organisasinya di masa lampau, tanpa peta, bukan tidak mungkin eksistensi lembaga atau organisasi hanya berusia pendek. Pengabaian terhadap arsip, dokumentasi sama dengan pengabaian terhadap sejarah...
Organisasi atau lembaga mahasiswa maupun kepemudaan dinilai cukup banyak berperan dalam roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Idealisme mahasiswa untuk membangun masyarakat yang lebih maju dan beradab, yang aksinya dikelola dalam suatu kelompok yang terlembaga hingga melahirkan perubahan yang cukup signifikan, tidak jarang justru lebih cekatan dan konkret dari para birokrat. Namun, acapkali semangat idealisme berlembaga, berorganisasi, beramal jama'i menjadi kendur, hingga hasil pahitnya adalah vakumnya suatu lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan dalam jangka waktu tertentu.
Apabila suatu ketika, ada generasi yang berniat menggerakkan dan menghidupkan kembali suatu lembaga atau organisasi, bukan tidak mungkin mereka akan bertanya banyak hal pada si pelaku sejarah secara langsung. Namun, mengetahui jejak langkah suatu organisasi atau lembaga, apalagi organisasi pergerakan, tidak hanya bertanya pada si pelaku sejarah. Di sinilah seharusnya peran arsip dan dokumentasi dimainkan. Dalam teori umum yang dikenal dalam bidang kearsipan, suatu organisasi atau lembaga pastilah memiliki tugas pokok dan fungsi, atau visi dan misi. Visi dan misi ini kemudian di break down menjadi kegiatan2 konkret yang diharapkan membawa banyak manfaat. Ketika suatu kegiatan dimunculkan, sudah pasti melibatkan serangkaian proses administrasi, seperti penyusunan proposal kegiatan, tata persuratan (yang terjadi selama organisasi itu mewujud), transaksi2 finansial maupun non-finansial, notulen2 rapat, dan sebagainya. Hasil dari proses administrasi itu sebagian besarnya menjadi arsip lembaga atau organisasi. Bahkan ketika kegiatan itu dimulai, ada proses pendokumentasian seperti foto dan video. Hingga pada akhir kegiatan maupun kepengurusan lembaga, ada rangkaian pembuatan laporan pertanggungjawaban. Serangkaian proses tadi tentu tidak berjalan sekali dua kali, tapi selama lembaga atau organisasi itu ada, eksis, mewujud, selama itu pula kearsipan terus ada di dalamnya.
Lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan yang kurang paham atau kurang menyadari dan bahkan tidak tahu masalah kearsipan maupun tata administrasi akan berakibat sangat fatal. Meski generasi baru memiliki semangat berjuang untuk menghidupkan organisasi atau lembaga, tapi mereka tidak memahami jalan gerak organisasinya di masa lampau, tanpa peta, bukan tidak mungkin eksistensi lembaga atau organisasi hanya berusia pendek. Pengabaian terhadap arsip, dokumentasi sama dengan pengabaian terhadap sejarah...
Senin, 04 April 2011
Coretan 11
Banyak anak, banyak rejeki
Menurut manusia modern saat ini, statement itu sangat tidak tepat. Aktivitas mendidik anak dianggap sesuatu yang tidak komersil dan membuang-buang waktu. Punya anak satu saja sudah kepayahan mengurusnya, apalagi sampe 10 anak sekaligus. Konteks ini akan penulis perluas dengan lingkup negara. Suatu negara dengan wilayah yang cukup luas, ditambah laju pertumbuhan penduduk yang luar biasa tinggi, hingga akhirnya beberapa dekade yang telah lewat, pemerintah menerapkan program KB. Dua anak cukup!
Harapan program KB atau penahanan laju pertumbuhan penduduk secara kuantitas adalah agar terjadi keseimbangan antara alam dengan populasi manusia. Jika populasi manusia tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin akan merusak keseimbangan alam. Tentu saja, statement itu menurut versi penggagas KB.
Kita mungkin pernah mendengar statement salah satu tokoh besar dunia, Mahatma Gandhi. Bumi ini akan selalu cukup memenuhi kebutuhan manusianya, tapi bumi tidak akan pernah cukup bagi manusia serakah!Permasalahan yang ditekankan manajemen sumber daya manusia versi Mahatma Gandhi bukan pada pengendalian jumlah penduduk, tapi pada peningkatan kualitas manusianya. Kualitas disini tentu tidak hanya diukur menurut versi pemikiran2 western yang menekankan pada materi, tapi juga peningkatan untuk tujuan ukhrawi. Orang pintar sudah banyak, tapi kebanyakan juga keblinger karena pintarnya tidak dibarengi dengan peningkatan ukhrawinya. Cerdas, tapi licik. Mengelola sumber daya manusia versi barat, jika kita kaji lebih mendalam, akan berujung pada penekanan aspek keserakahan akan dunia.Silahkan cek.
Menurut manusia modern saat ini, statement itu sangat tidak tepat. Aktivitas mendidik anak dianggap sesuatu yang tidak komersil dan membuang-buang waktu. Punya anak satu saja sudah kepayahan mengurusnya, apalagi sampe 10 anak sekaligus. Konteks ini akan penulis perluas dengan lingkup negara. Suatu negara dengan wilayah yang cukup luas, ditambah laju pertumbuhan penduduk yang luar biasa tinggi, hingga akhirnya beberapa dekade yang telah lewat, pemerintah menerapkan program KB. Dua anak cukup!
Harapan program KB atau penahanan laju pertumbuhan penduduk secara kuantitas adalah agar terjadi keseimbangan antara alam dengan populasi manusia. Jika populasi manusia tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin akan merusak keseimbangan alam. Tentu saja, statement itu menurut versi penggagas KB.
Kita mungkin pernah mendengar statement salah satu tokoh besar dunia, Mahatma Gandhi. Bumi ini akan selalu cukup memenuhi kebutuhan manusianya, tapi bumi tidak akan pernah cukup bagi manusia serakah!Permasalahan yang ditekankan manajemen sumber daya manusia versi Mahatma Gandhi bukan pada pengendalian jumlah penduduk, tapi pada peningkatan kualitas manusianya. Kualitas disini tentu tidak hanya diukur menurut versi pemikiran2 western yang menekankan pada materi, tapi juga peningkatan untuk tujuan ukhrawi. Orang pintar sudah banyak, tapi kebanyakan juga keblinger karena pintarnya tidak dibarengi dengan peningkatan ukhrawinya. Cerdas, tapi licik. Mengelola sumber daya manusia versi barat, jika kita kaji lebih mendalam, akan berujung pada penekanan aspek keserakahan akan dunia.Silahkan cek.
Selasa, 29 Maret 2011
Coretan 11
Menurut hemat penulis, Islam di Indonesia lebih sreg jika disebut sebagai Islam kerajaan. Jika kita membuka kembali buku teks pelajaran sejarah zaman SMA pada bab sejarah masuknya Islam di Indonesia, akan terlihat bahwa masuknya Islam tidak jauh berbeda dengan misi 3G milik barat. Yup, Gold, Glory, Gospel. Aspek ekonomi, perdagangan atau perniagaan lebih banyak disorot. Padahal, perdagangan hanyalah media dalam menanamkan kemuliaan Islam. Aspek Glory atau kejayaan lebih terlihat pada peran kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Kerajaan yang di dominasi unsur feodalisme justru tidak mampu membumikan Islam lebih menyeluruh. Berbagai perang yang berkecamuk dan persaingan ekonomi antar kerajaan, mau tidak mau, berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam.
Ketika penulis cermati, dapat disimpulkan bahwa Islam di Indonesia pada masa masuknya ke Indonesia dan fase-fase awal penyebarannya di nusantara, baru di ambil kulit luar cangkangnya. Masalah pemurnian akidah, misalnya, tidak banyak diteruskan pendalamannya untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat luas. Label fundamentalis, radikal terlanjur melekat kepada mereka yang dengan gigih berusaha memurnikan akidah. Ajaran-ajaran walisongo hanya berhenti pada tataran Islam sebagai budaya.
Adanya bentrokan antar kerajaan bercorak Islam, mempertahankan wilayah ekonomis masing-masing, mengindikasikan bahwa Islam pada masa itu ternyata belum mengambil peran penting untuk menyatukan berbagai kerajaan Islam di nusantara. Namun, lagi-lagi, hal ini disebabkan Islam hanya sebatas pada budaya, sebagai simbol, sebagai fakta sejarah bahwa Dien ini pernah menyebarkan pengaruhnya sejak masa sejarah kerajaan. Ironisnya, justru paham-paham dari baratlah yang mampu menyatukan lebih lama masyarakat nusantara. Nasionalisme, demokrasi, komunis, liberal, sosialis.Hmm...
Ketika penulis cermati, dapat disimpulkan bahwa Islam di Indonesia pada masa masuknya ke Indonesia dan fase-fase awal penyebarannya di nusantara, baru di ambil kulit luar cangkangnya. Masalah pemurnian akidah, misalnya, tidak banyak diteruskan pendalamannya untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat luas. Label fundamentalis, radikal terlanjur melekat kepada mereka yang dengan gigih berusaha memurnikan akidah. Ajaran-ajaran walisongo hanya berhenti pada tataran Islam sebagai budaya.
Adanya bentrokan antar kerajaan bercorak Islam, mempertahankan wilayah ekonomis masing-masing, mengindikasikan bahwa Islam pada masa itu ternyata belum mengambil peran penting untuk menyatukan berbagai kerajaan Islam di nusantara. Namun, lagi-lagi, hal ini disebabkan Islam hanya sebatas pada budaya, sebagai simbol, sebagai fakta sejarah bahwa Dien ini pernah menyebarkan pengaruhnya sejak masa sejarah kerajaan. Ironisnya, justru paham-paham dari baratlah yang mampu menyatukan lebih lama masyarakat nusantara. Nasionalisme, demokrasi, komunis, liberal, sosialis.Hmm...
Kamis, 24 Maret 2011
Coretan 10
Ilmu dan kekuasaan. Dua hal yang tidak jarang sering terjadi bentrok. Keduanya memang tidk mungkin tidak untuk saling mempengaruhi. Ilmu dan kekuasaan, di dunia nyata, ibarat dua sisi mata uang. Keduanya sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup umat manusia. Namun tidak jarang keduanya saling menjatuhkan.
Di tangan manusia, melalui alat bernama organisasi, dua hal itu saling diadu. Dalam dunia dakwah, mana yang lebih penting?Sifat dasar manusia yang lebih condong kepada kekuasaan, apapun embel-embel yang menyertai, bisa menepiskan peran keilmuan. Organisasi keilmuan dengan fokus interdisipliner ilmu tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh demi merebut kekuasaan.
berbicara tentang organisasi keilmuan, ada beberapa bentuk organisasi. Ada HMJ di tingkat jurusan, ada KSS maupun KSF di tingkat fakultas, dan ada KSU di tingkat universitas. Masing-masingnya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam memandang keilmuan. HMJ dan KSS tentu sangat spesifik kajian keilmuannya, atau dengan kata lain hanya mengkaji satu bidang keilmuan. Sedangkan KSF dan KSU memiliki ranah kajian keilmuan yang lebih luas lagi. Jika melihat secara politis, keberadaan HMJ yang dikuasai oleh kawan2 da'i, tentu akan sangat menguntungkan, dan insyaALLAH akan berjalan maksimal. Namun, apakah dengan demikian lantas peran KSF dikesampingkan, bahkan "dibekukan" karena sudah tidak berfungsi lagi sebagai alat untuk merebut pengaruh?Pembentukan KSF diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antar HMJ di bidang keilmuan, artinya, ia menjadi sarana dalam berbagi ilmu yang menjadi spesifikasi kajian masing-masing HMJ. Dengan demikian, akan terjadi harmonisasi antar disiplin ilmu sehingga lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Kita memang membutuhkan orang-orang yang ahli di bidangnya. Namun, ketika mereka hanya mementingkan disiplin ilmunya, tanpa mau memahami disiplin ilmu lain, maka amal jama'i di bidang keilmuan tidak akan berjalan maksimal.
Sekali lagi penulis tekankan, bahwa masing-masing disiplin keilmuan pastilah saling terkait, tidak peduli setipis apapun keterkaitannya. Tugas kita, sebagai ilmuwan, cendekia, maupun yang peduli dengan masalah keilmuan adalah mempertahankan keterkaitan antar disiplin ilmu agar tidak menjadi trouble maker pada sebuah peradaban.
Di tangan manusia, melalui alat bernama organisasi, dua hal itu saling diadu. Dalam dunia dakwah, mana yang lebih penting?Sifat dasar manusia yang lebih condong kepada kekuasaan, apapun embel-embel yang menyertai, bisa menepiskan peran keilmuan. Organisasi keilmuan dengan fokus interdisipliner ilmu tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh demi merebut kekuasaan.
berbicara tentang organisasi keilmuan, ada beberapa bentuk organisasi. Ada HMJ di tingkat jurusan, ada KSS maupun KSF di tingkat fakultas, dan ada KSU di tingkat universitas. Masing-masingnya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam memandang keilmuan. HMJ dan KSS tentu sangat spesifik kajian keilmuannya, atau dengan kata lain hanya mengkaji satu bidang keilmuan. Sedangkan KSF dan KSU memiliki ranah kajian keilmuan yang lebih luas lagi. Jika melihat secara politis, keberadaan HMJ yang dikuasai oleh kawan2 da'i, tentu akan sangat menguntungkan, dan insyaALLAH akan berjalan maksimal. Namun, apakah dengan demikian lantas peran KSF dikesampingkan, bahkan "dibekukan" karena sudah tidak berfungsi lagi sebagai alat untuk merebut pengaruh?Pembentukan KSF diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antar HMJ di bidang keilmuan, artinya, ia menjadi sarana dalam berbagi ilmu yang menjadi spesifikasi kajian masing-masing HMJ. Dengan demikian, akan terjadi harmonisasi antar disiplin ilmu sehingga lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Kita memang membutuhkan orang-orang yang ahli di bidangnya. Namun, ketika mereka hanya mementingkan disiplin ilmunya, tanpa mau memahami disiplin ilmu lain, maka amal jama'i di bidang keilmuan tidak akan berjalan maksimal.
Sekali lagi penulis tekankan, bahwa masing-masing disiplin keilmuan pastilah saling terkait, tidak peduli setipis apapun keterkaitannya. Tugas kita, sebagai ilmuwan, cendekia, maupun yang peduli dengan masalah keilmuan adalah mempertahankan keterkaitan antar disiplin ilmu agar tidak menjadi trouble maker pada sebuah peradaban.
Senin, 14 Maret 2011
Coretan 9 (Wisata Hati)
"Belajar dari Bangsa Attaturk"
Pengalaman ini dialami ketika sebuah keluarga sedang menjalankan ibadah sholat Maghrib di Masjid Nabawi untuk pertama kalinya.
Ketika berada di Indonesia, permasalahan longgarnya shaf memang tidak begitu diperhatikan. Meskipun sudah banyak ulama yang mengingatkan pentingnya merapatkan shaf. Ratusan artikel juga tidak jarang yang menyinggung masalah keutamaan meluruskan, merapatkan, merapikan shaf. Kebiasaan "lalai memperhatikan" perihal shaf ini pun tidak serta merta hilang ketika berada di tanah suci, baik Makkah maupun Madinah. Perhatikan saja shaf para jamaah haji Indonesia terutama, tidak sedikit yang shafnya terbilang longgar sehingga memaksa para petugas sholat masjid Nabawi berteriak-teriak yang artinya kurang lebih, "rapatkan shafnya!!Itu masih longgar!". Tapi memang mungkin tabiat orang Indonesia yang kebal dengan teriakan2 yang nadanya sudah agak mengancam pun tak bergeming. Tetap duduk manis sambil berdzikir menunggu waktu sholat.
Berbeda halnya dengan bangsa Attaturk atau bangsa Turki. Mereka sangat memperhatikan betul perihal sholat. Meski celahnya kecil, tetap saja mereka isi. Benar2 rapat sehingga tidak jarang kesulitan untuk bergerak. Namun, maksud baik mereka kadang menghasilkan gerutuan dan umpatan dari jama'ah haji lain. Mengapa? Lagi-lagi melihat pada cara penyampaiannya. Adat bangsa kita yang mengenal kata "permisi" ketika hendak mengisi celah kosong dalam suatu forum yang sudah penuh sesak, begitu melihat bangsa Turki yang tanpa ba-bi-bu menggelar sajadah di tengah-tengah kumpulan jama'ah Indonesia, sontak membuat beberapa dari jama'ah memilih tempat lain. Tidak sedikit juga yang harus beradu isyarat "penolakan". Lucunya, meski sudah diajak berbahasa Inggris, bangsa Turki tetap menggunakan bahasa ibu mereka. Menggelikan memang ketika mengingat peristiwa ini.
Yup, lagi-lagi masalah penyampaian...ketika hal baik disampaikan dengan cara yang kurang atau tidak baik, ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan...
Pengalaman ini dialami ketika sebuah keluarga sedang menjalankan ibadah sholat Maghrib di Masjid Nabawi untuk pertama kalinya.
Ketika berada di Indonesia, permasalahan longgarnya shaf memang tidak begitu diperhatikan. Meskipun sudah banyak ulama yang mengingatkan pentingnya merapatkan shaf. Ratusan artikel juga tidak jarang yang menyinggung masalah keutamaan meluruskan, merapatkan, merapikan shaf. Kebiasaan "lalai memperhatikan" perihal shaf ini pun tidak serta merta hilang ketika berada di tanah suci, baik Makkah maupun Madinah. Perhatikan saja shaf para jamaah haji Indonesia terutama, tidak sedikit yang shafnya terbilang longgar sehingga memaksa para petugas sholat masjid Nabawi berteriak-teriak yang artinya kurang lebih, "rapatkan shafnya!!Itu masih longgar!". Tapi memang mungkin tabiat orang Indonesia yang kebal dengan teriakan2 yang nadanya sudah agak mengancam pun tak bergeming. Tetap duduk manis sambil berdzikir menunggu waktu sholat.
Berbeda halnya dengan bangsa Attaturk atau bangsa Turki. Mereka sangat memperhatikan betul perihal sholat. Meski celahnya kecil, tetap saja mereka isi. Benar2 rapat sehingga tidak jarang kesulitan untuk bergerak. Namun, maksud baik mereka kadang menghasilkan gerutuan dan umpatan dari jama'ah haji lain. Mengapa? Lagi-lagi melihat pada cara penyampaiannya. Adat bangsa kita yang mengenal kata "permisi" ketika hendak mengisi celah kosong dalam suatu forum yang sudah penuh sesak, begitu melihat bangsa Turki yang tanpa ba-bi-bu menggelar sajadah di tengah-tengah kumpulan jama'ah Indonesia, sontak membuat beberapa dari jama'ah memilih tempat lain. Tidak sedikit juga yang harus beradu isyarat "penolakan". Lucunya, meski sudah diajak berbahasa Inggris, bangsa Turki tetap menggunakan bahasa ibu mereka. Menggelikan memang ketika mengingat peristiwa ini.
Yup, lagi-lagi masalah penyampaian...ketika hal baik disampaikan dengan cara yang kurang atau tidak baik, ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan...
Rabu, 02 Maret 2011
coretan 8
Pak Djoko Utomo. Siapa saja yg terjun di dunia kearsipan tentu mengetahui betul pribadi satu ini. Saya terkejut karena ternyata pribadi satu ini sempat diinterview salah satu majalah yang menjadi langganan saya. Sedih juga karena selama masa perkuliahan, saya hanya mengenal beliau dari diskusi dengan beberapa senior kearsipan. Iya, di angkatan saya, beliau tidak sempat mengisi karena kepadatan aktivitasnya. Maklum saja, saat itu beliau masih menjabat sebagai kepala ANRI.
Siapa sangka bahwa beliau telah 37 tahun bersetia dengan arsip-arsip, yang dalam pandangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, masih tergolong marginal. Berbagai upaya beliau lakukan untuk mengembangkan kearsipan di Indonesia, memperbaiki pola pikir masyarakat tentang arsip, termasuk juga di kalangan pejabat. Termarginalnya kearsipan justru menantang kreativitas beliau.
Belajar arsip artinya belajar untuk menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Bagaimana tidak?Bukankah dari arsip kita jadi paham sejarah bangsa sendiri, untuk kemudian, dan sudah seharusnya, menjadi pijakan dasar untuk menyusun masa depan. Arsip menjadi tempat berkaca bagi banyak lembaga, entah formal maupun informal, terkait keberadaannya di masyarakat. Seberapa bermanfaatkah eksistensi mereka melalui kegiatan2 yang mereka selenggarakan? Bukankah arsip tercipta karena adanya aktivitas suatu lembaga yang mencerminkan tupoksi lembaga terkait?
Pak Djoko saja yang tidak berlatar pendidikan kearsipan bisa menjadi tertantang kreativitasnya untuk kearsipan, bagaimana dengan kita, kawan2 yang bergelut di dunia kearsipan? Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tapi tanyakan, apa yang sudah kau berikan untuk negaramu...
Siapa sangka bahwa beliau telah 37 tahun bersetia dengan arsip-arsip, yang dalam pandangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, masih tergolong marginal. Berbagai upaya beliau lakukan untuk mengembangkan kearsipan di Indonesia, memperbaiki pola pikir masyarakat tentang arsip, termasuk juga di kalangan pejabat. Termarginalnya kearsipan justru menantang kreativitas beliau.
Belajar arsip artinya belajar untuk menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Bagaimana tidak?Bukankah dari arsip kita jadi paham sejarah bangsa sendiri, untuk kemudian, dan sudah seharusnya, menjadi pijakan dasar untuk menyusun masa depan. Arsip menjadi tempat berkaca bagi banyak lembaga, entah formal maupun informal, terkait keberadaannya di masyarakat. Seberapa bermanfaatkah eksistensi mereka melalui kegiatan2 yang mereka selenggarakan? Bukankah arsip tercipta karena adanya aktivitas suatu lembaga yang mencerminkan tupoksi lembaga terkait?
Pak Djoko saja yang tidak berlatar pendidikan kearsipan bisa menjadi tertantang kreativitasnya untuk kearsipan, bagaimana dengan kita, kawan2 yang bergelut di dunia kearsipan? Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tapi tanyakan, apa yang sudah kau berikan untuk negaramu...
Senin, 28 Februari 2011
coretan 7
Kampus kerakyatan di kota pelajar beberapa tahun terakhir ini banyak bersolek. Kampus ini memang pada mulanya banyak saya takjub. Bagaimana tidak?Luas arealnya yang saya perkirakan menakup 1/4 dari luas wilayah kampung saya, bangunan2 megah yang berisi intelektual2 muda, apalagi prestasinya yang dibilang mentereng di mata Internasional. Tapi sayangnya, ketakjuban itu berubah menjadi rasa iba. Bukan iba pada umumnya masyarakat pahami. Iba karena perspektif "kerakyatan" yang pada mulanya tak mengenal kasta, akhir2 ini mulai bergeser menjadi rakyat dalam artian kelas menengah ke atas.
Kanpus kerakyatan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja, yang seharusnya selalu dengan rakyat tanpa mengenal kastaisme, menjadi semakin sulit dijangkau. Bangunan menara gading itu semakin menjulang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari biaya masuk, biaya selama perkuliahan, dan sekarang kebijakan penerapan KIK yang semakin menjauhkan kampus kerakyatan dengan rakyatnya yg sebenarnya. Beberapa teman mengatakan bahwa kampus kerakyatan sudah menjadi komersil, money-oriented, tanpa pernah tahu pasti untuk apa uang yang terkumpul itu. Penelitian?bahkan kawan2 mahasiswa pun harus bersusah payah mencari sponsor untuk penelitian2 mereka. Kegiatan kemahasiswaan?tanyakan saja berapa proposal kegiatan yg bs tembus kepada beberapa lembaga mahasiswa yg akan menyelenggarakan kegiatan.
Bagaimana jika digunakan untuk pembangunan di sekitar kampus?hmm...yg menjadi pertanyaan sebenarnya adalah bermanfaatkah bangunan2 tersebut? Perhatikan saja beberapa bangunan di daerah sekip. Salah satu pusat studi di sana yang seharusnya banyak dikunjungi mahasiswa, ataupun peneliti, atau masyarakat umum untuk berdiskusi atau sekedar mencari informasi terkait hal2 yg menjadi kajian studi, malah dikunjungi banyak ilalang dan lumut. Dua proyek yang beberapa bulan lalu sempat dikerjakan di belakang RS Sardjito dan di depan FKUnya saja seperti tidak lagi dilanjutkan, lebih tepatnya menunggu. Entah apa yang ditunggu. Di daerah kampus selatan pun banyak berdiri bangunan seperti "halte" hijau yang baru saya ketahui dari seorang kawan mahasiswa, akan digunakan untuk tempat pengelolaan sampah. Jika demikian, apa tidak terlihat mewah?Entahlah...Nasib Gama Plaza sendiri pun belum jelas. Antara ada dan tiada saja gedung di samping Bank BNI itu.
Kampus kerakyatan sekarang ini seperti sudah lupa dengan sejarahnya. Padahal founding father negeri ini pernah berpesan, JAS MERAH!JAngan Sekali-kali Melupakan sejarAH...
Kanpus kerakyatan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja, yang seharusnya selalu dengan rakyat tanpa mengenal kastaisme, menjadi semakin sulit dijangkau. Bangunan menara gading itu semakin menjulang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari biaya masuk, biaya selama perkuliahan, dan sekarang kebijakan penerapan KIK yang semakin menjauhkan kampus kerakyatan dengan rakyatnya yg sebenarnya. Beberapa teman mengatakan bahwa kampus kerakyatan sudah menjadi komersil, money-oriented, tanpa pernah tahu pasti untuk apa uang yang terkumpul itu. Penelitian?bahkan kawan2 mahasiswa pun harus bersusah payah mencari sponsor untuk penelitian2 mereka. Kegiatan kemahasiswaan?tanyakan saja berapa proposal kegiatan yg bs tembus kepada beberapa lembaga mahasiswa yg akan menyelenggarakan kegiatan.
Bagaimana jika digunakan untuk pembangunan di sekitar kampus?hmm...yg menjadi pertanyaan sebenarnya adalah bermanfaatkah bangunan2 tersebut? Perhatikan saja beberapa bangunan di daerah sekip. Salah satu pusat studi di sana yang seharusnya banyak dikunjungi mahasiswa, ataupun peneliti, atau masyarakat umum untuk berdiskusi atau sekedar mencari informasi terkait hal2 yg menjadi kajian studi, malah dikunjungi banyak ilalang dan lumut. Dua proyek yang beberapa bulan lalu sempat dikerjakan di belakang RS Sardjito dan di depan FKUnya saja seperti tidak lagi dilanjutkan, lebih tepatnya menunggu. Entah apa yang ditunggu. Di daerah kampus selatan pun banyak berdiri bangunan seperti "halte" hijau yang baru saya ketahui dari seorang kawan mahasiswa, akan digunakan untuk tempat pengelolaan sampah. Jika demikian, apa tidak terlihat mewah?Entahlah...Nasib Gama Plaza sendiri pun belum jelas. Antara ada dan tiada saja gedung di samping Bank BNI itu.
Kampus kerakyatan sekarang ini seperti sudah lupa dengan sejarahnya. Padahal founding father negeri ini pernah berpesan, JAS MERAH!JAngan Sekali-kali Melupakan sejarAH...
Rabu, 23 Februari 2011
coretan 6
Fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara. Kurang lebih begitulah salah satu teori manajemen rakyat kelas bawah oleh negara saya. Teori ini kemudian dibakukan dalam salah satu pasal di UUD 1945. Yang jelas, saya tidak akan banyak mengkritik negara (pemerintah) tentang betapa sulitnya mereka me-menej kelas paling bawah dalam masyarakat.
Kemiskinan, bagi sebagian orang dianggap sudah menjadi takdir. Jika hanya dilihat dari sisi materi saja, ukuran miskin dan kaya menjadi sangat terbatas. Tak jarang pula memperlebar jurang kesenjangan. Dalam agama saya, tidak diajarkan hidup miskin, yang ada justru umat Islam diajak untuk menjadi kaya. Oi, jangan menyamakan antara hidup sederhana dengan miskin lho.
Beberapa waktu lalu, dalam salah satu majalah Islam, diangkat topik yang sangat menarik. Tidak jauh dari kosakata miskin dan kaya. Hal yang menarik saya cermati adalah bahwa beberapa ulama zaman dulu, masa tabi'in hingga tabi' tabi'in adalah ulama2 kaya, tentu saja kaya secara materi. Ulama2 ahli hadits, hafidz Qur'an, dilimpahi karunia oleh Allah dengan kemelimpahan harta. Bayangkan saja, dalam sehari, beliau2 ini mampu memperoleh penghasilan lebih dari 350 juta!Masya Allah....ukuran yang cukup fantastis untuk ukuran seorang pedagang. Yup, beliau2 ini, selain seorang ulama, juga seorang pedagang. Saya tidak sedang merekomendasikan berdagang sebagai satu2nya media untuk meraih kesuksesan dunia itu. Ada satu hal yang dapat kita teladani dari perjalanan hidup ulama2 kaya tersebut.
Ulama, sering diidentikkan dengan sifat zuhud. Bagi sebagian besar umat Islam, zuhud diartikan dengan mejauhi dunia, jauh dari segala kemewahan, ntah uang maupun fasilitas hidup yang serba luks.Benar2 hidup apa adanya, bahkan tak jarang yang mendekati hidup miskin. Lantas, bagaimana dengan ulama2 kaya yang kisah hidupnya diangkat dalam tema majalah tersebut?Zuhud, dalam pandangan mereka adalah bagaimana cara untuk mengelola karunia Allah yang sedemikian besar agar tak menjadi malapetaka, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau2 mendapat banyak keuntungan, dan sebagian besar keuntungan itu disalurkan untuk fakir2 miskin, mensejahterakan lingkup pendidikan, berlomba2 memenuhi baitul maal. Bagian untuk mereka bahkan hanya cukup untuk kebutuhan hidup paling mendasar, tak begitu banyak barang sekunder, apalagi hal2 yang tersier.
Naah, bagaimana dengan kita?kebetulan, saya juga sedang belajar mengikuti jejak beliau2 itu. Jika dikaitkan dengan pemeliharaan fakir miskin dan anak2 terlantar, ternyata dalam Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab negara (pemerintah) saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Memelihara, artinya tidak dibiarkan saja keberadaannya sebagai peminta2, pemulung dan berbagai ketidaklayakan sebagai manusia. Memelihara, bukan juga sebagai media untuk memberikan sumbangan2, tapi juga memberikan pemahaman untuk hidup lebih layak, bahkan menjadi kaya. Kaya yang zuhud...
Kemiskinan, bagi sebagian orang dianggap sudah menjadi takdir. Jika hanya dilihat dari sisi materi saja, ukuran miskin dan kaya menjadi sangat terbatas. Tak jarang pula memperlebar jurang kesenjangan. Dalam agama saya, tidak diajarkan hidup miskin, yang ada justru umat Islam diajak untuk menjadi kaya. Oi, jangan menyamakan antara hidup sederhana dengan miskin lho.
Beberapa waktu lalu, dalam salah satu majalah Islam, diangkat topik yang sangat menarik. Tidak jauh dari kosakata miskin dan kaya. Hal yang menarik saya cermati adalah bahwa beberapa ulama zaman dulu, masa tabi'in hingga tabi' tabi'in adalah ulama2 kaya, tentu saja kaya secara materi. Ulama2 ahli hadits, hafidz Qur'an, dilimpahi karunia oleh Allah dengan kemelimpahan harta. Bayangkan saja, dalam sehari, beliau2 ini mampu memperoleh penghasilan lebih dari 350 juta!Masya Allah....ukuran yang cukup fantastis untuk ukuran seorang pedagang. Yup, beliau2 ini, selain seorang ulama, juga seorang pedagang. Saya tidak sedang merekomendasikan berdagang sebagai satu2nya media untuk meraih kesuksesan dunia itu. Ada satu hal yang dapat kita teladani dari perjalanan hidup ulama2 kaya tersebut.
Ulama, sering diidentikkan dengan sifat zuhud. Bagi sebagian besar umat Islam, zuhud diartikan dengan mejauhi dunia, jauh dari segala kemewahan, ntah uang maupun fasilitas hidup yang serba luks.Benar2 hidup apa adanya, bahkan tak jarang yang mendekati hidup miskin. Lantas, bagaimana dengan ulama2 kaya yang kisah hidupnya diangkat dalam tema majalah tersebut?Zuhud, dalam pandangan mereka adalah bagaimana cara untuk mengelola karunia Allah yang sedemikian besar agar tak menjadi malapetaka, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau2 mendapat banyak keuntungan, dan sebagian besar keuntungan itu disalurkan untuk fakir2 miskin, mensejahterakan lingkup pendidikan, berlomba2 memenuhi baitul maal. Bagian untuk mereka bahkan hanya cukup untuk kebutuhan hidup paling mendasar, tak begitu banyak barang sekunder, apalagi hal2 yang tersier.
Naah, bagaimana dengan kita?kebetulan, saya juga sedang belajar mengikuti jejak beliau2 itu. Jika dikaitkan dengan pemeliharaan fakir miskin dan anak2 terlantar, ternyata dalam Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab negara (pemerintah) saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Memelihara, artinya tidak dibiarkan saja keberadaannya sebagai peminta2, pemulung dan berbagai ketidaklayakan sebagai manusia. Memelihara, bukan juga sebagai media untuk memberikan sumbangan2, tapi juga memberikan pemahaman untuk hidup lebih layak, bahkan menjadi kaya. Kaya yang zuhud...
Kamis, 17 Februari 2011
Coretan 5
Apa yang terlintas dalam kepala kita ketika mendengar kata metro mini (mini bus) atau kalau di kota asal saya biasa disebut "bis tuyul"?Akap, Kopaja, Kopata, dan cs2nya?Sebuah bus berukuran kecil dengan warna agak kusam, asap knalpot yang mengungkung jalanan, sopir yang sering ugal2an, tak jarang mengacuhkan lampu lalu lintas, teriakan2 tak terkendali untuk menarik penumpang. Tapi lebih banyak juga teriakan caci maki lantaran si sopir seperti tak punya etika, main srobot tanpa terlebih dulu membunyikan klakson, berhenti tiba2, minggir atau berbelok tanpa menyalakan lampu riting. Bahkan ada juga kondektur yang berbuat tidak patut kepada penumpang wanita.
Metomini, sering menjadi angkutan alternatif yang lumayan murah dan membuat kita selalu "berolahraga", senam jantung lebih tepatnya. Tapi saya tidak merekomendasikan "olah raga" ini untuk penderita sakit jantung. Bagaimana tidak?Dengan segala hal yang saya sebutkan di atas, tak hanya penumpang yang harus menahan nafas dan kesabaran, tapi juga pengguna jalan lain harus ekstra sabar dengan tingkah polah kendaraan metro mini ini. Jejak ugal2an si sopir metro mini tak sedikit yang diikuti para sopir taksi dan angkot.
Meski saya lebih sering menggunakan sepeda motor, bukan berarti saya tidak pernah merasakan menjadi penumpang metro mini lho. Di Yogyakarta saja banyak metro mini yang sudah sedemikian parah negatifnya hingga tak jarang nyaris terjadi kecelakaan. Bagaimana dengan Jakarta?Kota yang sudah terkenal dengan kemacetannya ini, menurut harian Kompas terbitan Kamis, 17 Februari 2011, banyak metro mini yang menelan korban jiwa. Dengan alasan kejar setoran, tak jarang nyawa manusia menjadi tumbalnya. Bahkan disebutkan bahwa, kebanyakan sopir metro mini adalah sopir "tembak" alias bukan sopir resmi metro mini. Para sopir "tembak" biasanya beraktivitas ketika si sopir resmi sedang beristirahat. Tak sedikit pula sopir yang yang baru saja selesai belajar mengemudi, langsung "narik". Oi, bayangkan saja, orang yang baru belajar nyetir sudah harus dituntut kejar setoran dengan sistem ugal2an!
Metro mini memang menjadi salah satu alternatif kendaraan untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi, yang tidak jarang makin membuat kacau lalu lintas jalan raya. Namun, jika sisi negatifnya tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin akan masuk dalam daftar pembunuh mematikan setelah jantung, di Indonesia. Bahkan tingkat poulusinya bisa jadi lebih parah dari kendaraan2 pribadi. Keberadaan bus2 trans (transjakarta maupun transjogja) malah menjadikan si sopir makin agresif kejar setoran, makin tinggi juga tingkat ugal2annya.
Pemakaian sepeda maupun berjalan kaki untuk menempuh perjalanan jarak dekat memang bisa menjadi salah satu solusi menciptakan udara bersih. Sepeda motor pun sebetulnya bisa menyumbang kebersihan udara jika dirawat dengan maksimal dan tak terlalu pemakaiannya. Bagaimana dengan mobil?Kendaraan satu ini lebih saya rekomendasikan bagi kawan2 yang sudah berstatus "berkeluarga" dengan jumlah anak lebih dari 2. Bukankah mobil juga penyumbang besar parahnya kemacetan lalu lintas di Indonesia. Bagi yang masih single, pikirkan ulang untuk memiliki mobil pribadi selain mobil milik keluarga tentunya..
Metomini, sering menjadi angkutan alternatif yang lumayan murah dan membuat kita selalu "berolahraga", senam jantung lebih tepatnya. Tapi saya tidak merekomendasikan "olah raga" ini untuk penderita sakit jantung. Bagaimana tidak?Dengan segala hal yang saya sebutkan di atas, tak hanya penumpang yang harus menahan nafas dan kesabaran, tapi juga pengguna jalan lain harus ekstra sabar dengan tingkah polah kendaraan metro mini ini. Jejak ugal2an si sopir metro mini tak sedikit yang diikuti para sopir taksi dan angkot.
Meski saya lebih sering menggunakan sepeda motor, bukan berarti saya tidak pernah merasakan menjadi penumpang metro mini lho. Di Yogyakarta saja banyak metro mini yang sudah sedemikian parah negatifnya hingga tak jarang nyaris terjadi kecelakaan. Bagaimana dengan Jakarta?Kota yang sudah terkenal dengan kemacetannya ini, menurut harian Kompas terbitan Kamis, 17 Februari 2011, banyak metro mini yang menelan korban jiwa. Dengan alasan kejar setoran, tak jarang nyawa manusia menjadi tumbalnya. Bahkan disebutkan bahwa, kebanyakan sopir metro mini adalah sopir "tembak" alias bukan sopir resmi metro mini. Para sopir "tembak" biasanya beraktivitas ketika si sopir resmi sedang beristirahat. Tak sedikit pula sopir yang yang baru saja selesai belajar mengemudi, langsung "narik". Oi, bayangkan saja, orang yang baru belajar nyetir sudah harus dituntut kejar setoran dengan sistem ugal2an!
Metro mini memang menjadi salah satu alternatif kendaraan untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi, yang tidak jarang makin membuat kacau lalu lintas jalan raya. Namun, jika sisi negatifnya tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin akan masuk dalam daftar pembunuh mematikan setelah jantung, di Indonesia. Bahkan tingkat poulusinya bisa jadi lebih parah dari kendaraan2 pribadi. Keberadaan bus2 trans (transjakarta maupun transjogja) malah menjadikan si sopir makin agresif kejar setoran, makin tinggi juga tingkat ugal2annya.
Pemakaian sepeda maupun berjalan kaki untuk menempuh perjalanan jarak dekat memang bisa menjadi salah satu solusi menciptakan udara bersih. Sepeda motor pun sebetulnya bisa menyumbang kebersihan udara jika dirawat dengan maksimal dan tak terlalu pemakaiannya. Bagaimana dengan mobil?Kendaraan satu ini lebih saya rekomendasikan bagi kawan2 yang sudah berstatus "berkeluarga" dengan jumlah anak lebih dari 2. Bukankah mobil juga penyumbang besar parahnya kemacetan lalu lintas di Indonesia. Bagi yang masih single, pikirkan ulang untuk memiliki mobil pribadi selain mobil milik keluarga tentunya..
Senin, 14 Februari 2011
Coretan 4
Pinjam, meminjam, pinjama, apapun imbuhan yang dilekatkanpada kata pertama yang saya tulis, memang bisa menimbulkan multi tafsir. Kadangkala positif, lain waktu bisa jadi negatif, apalagi jika dikaitkan dengan uang. Ada satu cerita dari rangkaian mozaik dalam novel Ranah 3 Warna yang mengupas sisi negatif dari kata "meminjam". Sebuah kata yang akhirnya merenggangkan persahabatan dalam waktu sekian detik. Meski dalam beberapa mozaik selanjutnya, kerenggangan itu bisa kembali dieratkan.
Pinjam, meminjam, memang berimbas pada rasa ketergantungan, dan sering berdampak sangat mengerikan. Lihat saja negara-negara yang menggantungkan diri pada kata pinjam, lebih tepatnya "pinjaman". Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, lihat saja Indonesia. Sudah pinjamannya menggunung, tapi manfaat pinjaman itu seperti tak terasa hingga akar rumput. Pinjaman yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang sebaiknya digunakan untuk membuat sesuatu yang bisa menghasilkan lebih dari pinjaman, malah dikorupsi. Lebih banyak dihamburkan untuk sesuatu yang jauh dari kata "berguna" dan "bermanfaat". Gali lubang, tutup lubang.
Pinjam, meminjam, pinjaman, tentu saja tidak diharamkan. Tapi menurut saya, ini menjadi jalan terakhir, dan harus benar-benar dipertimbangkan positif negatifnya bagi peminjam, pihak yang dipinjam, dan sesuatu yang dipinjam, agar lebih banyak kemanfaatannya.
Pinjam, meminjam, memang berimbas pada rasa ketergantungan, dan sering berdampak sangat mengerikan. Lihat saja negara-negara yang menggantungkan diri pada kata pinjam, lebih tepatnya "pinjaman". Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, lihat saja Indonesia. Sudah pinjamannya menggunung, tapi manfaat pinjaman itu seperti tak terasa hingga akar rumput. Pinjaman yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang sebaiknya digunakan untuk membuat sesuatu yang bisa menghasilkan lebih dari pinjaman, malah dikorupsi. Lebih banyak dihamburkan untuk sesuatu yang jauh dari kata "berguna" dan "bermanfaat". Gali lubang, tutup lubang.
Pinjam, meminjam, pinjaman, tentu saja tidak diharamkan. Tapi menurut saya, ini menjadi jalan terakhir, dan harus benar-benar dipertimbangkan positif negatifnya bagi peminjam, pihak yang dipinjam, dan sesuatu yang dipinjam, agar lebih banyak kemanfaatannya.
Sabtu, 12 Februari 2011
Coretan 3
Judi, judi, judi....
Makin lama, Indonesia bisa jadi negara judi. Program undian berhadiah, uang kontan terutama, tak lagi dimiliki produsen2 barang atau makanan dan minuman saja. Siapapun bisa membuat program undian ini. Apalagi sekarang sudah zamanny "sms". Hanya dengan bermodal sms beberapa ratus atau ribuan rupiah, kita dijanjikan hadiah uang tunai hingga milyaran rupiah. Bahkan, peserta tidak hanya dari kalangan tertentu, siapapun bisa, wong modalnya cuma hape yang berisi pulsa, kirim sms ke nomor sekian, tinggal tunggu keajaiban saja, apakah kita termasuk yang menjadi OKB.
Program undian berhadiah dan sejenisnya (yang menawarkan uang bin fulus tanpa harus bekerja keras), sudah sejak dulu mendapat restu dari pemerintah. Kalau kawan2 penggemar novel Bang Tere-Liye, mungkin masih ingat kisah Burlian. Anak yang masih duduk di bangku kelas 4(kalau tidak salah) sudah berani mencuri uang milik Mamaknya hanya karena selembar kupon SDSB (program pemerintah di era orde baru, bisa dibaca lengkapnya di novel Burlian), dan tentu saja sensasi yang dirasakan ketika menunggu pengumuman siapa yang beruntung, lebih dari sensasi yang dirasakan ketika kita menunggu hasil ujian CPNS, misalnya.
Tidak sedikit juga pemerintah daerah yang pendapatan daerahnya diperoleh dari judi (dengan segala sinonimnya). Ini sama artinya, secara tidak langsung, pemerintah sudah memberikan izin agar penyakit "malas untuk bekerja keras" menggerogoti mental bangsa. Padahal Allah sudah mengingatkan,
Artinya: "Wahai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamr (minuman keras) berjudi ( berkorban utk ) berhala & mengundi nasib dg anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras & judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu & menghalangi kamu dari mengingat Allah & melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maa-idah: 90-91)"
Ah negara kita khan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila, bukan berdasakan Al Qur'an maupun hadist. hmmm....
Makin lama, Indonesia bisa jadi negara judi. Program undian berhadiah, uang kontan terutama, tak lagi dimiliki produsen2 barang atau makanan dan minuman saja. Siapapun bisa membuat program undian ini. Apalagi sekarang sudah zamanny "sms". Hanya dengan bermodal sms beberapa ratus atau ribuan rupiah, kita dijanjikan hadiah uang tunai hingga milyaran rupiah. Bahkan, peserta tidak hanya dari kalangan tertentu, siapapun bisa, wong modalnya cuma hape yang berisi pulsa, kirim sms ke nomor sekian, tinggal tunggu keajaiban saja, apakah kita termasuk yang menjadi OKB.
Program undian berhadiah dan sejenisnya (yang menawarkan uang bin fulus tanpa harus bekerja keras), sudah sejak dulu mendapat restu dari pemerintah. Kalau kawan2 penggemar novel Bang Tere-Liye, mungkin masih ingat kisah Burlian. Anak yang masih duduk di bangku kelas 4(kalau tidak salah) sudah berani mencuri uang milik Mamaknya hanya karena selembar kupon SDSB (program pemerintah di era orde baru, bisa dibaca lengkapnya di novel Burlian), dan tentu saja sensasi yang dirasakan ketika menunggu pengumuman siapa yang beruntung, lebih dari sensasi yang dirasakan ketika kita menunggu hasil ujian CPNS, misalnya.
Tidak sedikit juga pemerintah daerah yang pendapatan daerahnya diperoleh dari judi (dengan segala sinonimnya). Ini sama artinya, secara tidak langsung, pemerintah sudah memberikan izin agar penyakit "malas untuk bekerja keras" menggerogoti mental bangsa. Padahal Allah sudah mengingatkan,
Artinya: "Wahai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamr (minuman keras) berjudi ( berkorban utk ) berhala & mengundi nasib dg anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras & judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu & menghalangi kamu dari mengingat Allah & melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maa-idah: 90-91)"
Ah negara kita khan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila, bukan berdasakan Al Qur'an maupun hadist. hmmm....
Kamis, 10 Februari 2011
Coretan II
Beberapa opsi penyelesaian masalah Ahmadiyah mulai bermunculan. Namun dari sekian banyak opsi, yang paling menggelikan adalah membiarkan Ahmadiyah tetap ada tanpa ada usaha meluruskan pemahaman mereka yang menyimpang tentang Rasulullah SAW. Salah satu surat kabar terbitan hari ini pun menerbitkan opini salah satu cendekiawan nasional yang sangat kontraproduktif.
Lagi-lagi atas nama HAM yang banyak digaungkan negara-negara sekuler menjadi alasan Ahmadiyah tetap dibiarkan eksistensinya. Ahmadiyah memang tidak melakukan kekerasan fisik, tak pernah mengusik eksistensi perangkat negara, apalagi mengobrak-abrik dasar-dasar negara (Pancasila cs), tapi Ahmadiyah secara sadar sudah melakukan kekerasan ruhani, memukul jantung umat Islam yang meyakini Rasulullah Muhammad sebagai nabi penutup, merobek-robek hukum Tuhan(Allah SWT). Mungkin akan menjadi lain masalah jika si pencetus Ahmadiyah ini hanya menyatakan diri sebagai ulama, imam suatu mazhab, tanpa embel-embel "nabi" atau "kenabian".
Demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, tetapi ketika perbedaan pandangan tersebut sudah menyimpang dari firman Tuhan, masih pantaskah disebut demokrasi?Manusia zaman sekarang sudah layaknya Fir'aun yang berani menganggap dirinya Tuhan (atau setara dengan kedudukan Tuhan). Memang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai atau setara dengan Tuhan, melainkan melalui hukum, akal yang melahirkan gagasan untuk menantang Tuhan bahwa manusia juga bisa berbuat sebagaimana Tuhan bertindak!Astaghfirullah...
Lagi-lagi atas nama HAM yang banyak digaungkan negara-negara sekuler menjadi alasan Ahmadiyah tetap dibiarkan eksistensinya. Ahmadiyah memang tidak melakukan kekerasan fisik, tak pernah mengusik eksistensi perangkat negara, apalagi mengobrak-abrik dasar-dasar negara (Pancasila cs), tapi Ahmadiyah secara sadar sudah melakukan kekerasan ruhani, memukul jantung umat Islam yang meyakini Rasulullah Muhammad sebagai nabi penutup, merobek-robek hukum Tuhan(Allah SWT). Mungkin akan menjadi lain masalah jika si pencetus Ahmadiyah ini hanya menyatakan diri sebagai ulama, imam suatu mazhab, tanpa embel-embel "nabi" atau "kenabian".
Demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, tetapi ketika perbedaan pandangan tersebut sudah menyimpang dari firman Tuhan, masih pantaskah disebut demokrasi?Manusia zaman sekarang sudah layaknya Fir'aun yang berani menganggap dirinya Tuhan (atau setara dengan kedudukan Tuhan). Memang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai atau setara dengan Tuhan, melainkan melalui hukum, akal yang melahirkan gagasan untuk menantang Tuhan bahwa manusia juga bisa berbuat sebagaimana Tuhan bertindak!Astaghfirullah...
coretan I
Kekerasan bernuansa SARA kembali terjadi. Dua kali berturut2, dn diprediksikan bakal menjalar jika tidak segera ditindak tegas. Sayangnya niih, kembali membawa nama Islam, sebagai agama yang mayoritas dianut bangsa Indonesia. Bisa jadi hanya dari segelintir persoon yang memantik, tapi apa akibatnya?Ya Allah....
Volume tantangan dakwah semakin meninggi. Perang urat syaraf diyakini lebih kencang. Ketika media selalu berteriak masalah HAM, menghadirkan tokoh2 yang kurang objektif sebenarnya (dalam pandangan saya). Seolah mereka kurang berani menghadirkan sumber2 yang selama ini "dituduh" melakukan kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan saya, ketika hendak mencari titik terang, ajukanlah juga sumber2 yang "dituduh" tersebut, jadi masyarakat awam tidak mempersepsikan miring terhadap suatu agama. Namun, jalan dialog saja sebenarnya tidak cukup. Harus ada pengawalan dari hasil dialog, apapun bentuknya, kecuali dengan kekerasan tentu.
Kerukunan umat beragama, hidup berdampingan tanpa harus menyinggung prinsip hidup masing2 umat beragama. Hidup bersama dengan saling mengingatkan dan meluruskan ketika terjadi kekeliruan dalam pemahaman prinsip antar umat se-agama. Karena sesungguhnya, umat beragama menjadi benteng moral dari ancaman kebejatan2 yang menggerogoti metal suatu bangsa..
Volume tantangan dakwah semakin meninggi. Perang urat syaraf diyakini lebih kencang. Ketika media selalu berteriak masalah HAM, menghadirkan tokoh2 yang kurang objektif sebenarnya (dalam pandangan saya). Seolah mereka kurang berani menghadirkan sumber2 yang selama ini "dituduh" melakukan kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan saya, ketika hendak mencari titik terang, ajukanlah juga sumber2 yang "dituduh" tersebut, jadi masyarakat awam tidak mempersepsikan miring terhadap suatu agama. Namun, jalan dialog saja sebenarnya tidak cukup. Harus ada pengawalan dari hasil dialog, apapun bentuknya, kecuali dengan kekerasan tentu.
Kerukunan umat beragama, hidup berdampingan tanpa harus menyinggung prinsip hidup masing2 umat beragama. Hidup bersama dengan saling mengingatkan dan meluruskan ketika terjadi kekeliruan dalam pemahaman prinsip antar umat se-agama. Karena sesungguhnya, umat beragama menjadi benteng moral dari ancaman kebejatan2 yang menggerogoti metal suatu bangsa..
Langganan:
Postingan (Atom)
