Menurut hemat penulis, Islam di Indonesia lebih sreg jika disebut sebagai Islam kerajaan. Jika kita membuka kembali buku teks pelajaran sejarah zaman SMA pada bab sejarah masuknya Islam di Indonesia, akan terlihat bahwa masuknya Islam tidak jauh berbeda dengan misi 3G milik barat. Yup, Gold, Glory, Gospel. Aspek ekonomi, perdagangan atau perniagaan lebih banyak disorot. Padahal, perdagangan hanyalah media dalam menanamkan kemuliaan Islam. Aspek Glory atau kejayaan lebih terlihat pada peran kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Kerajaan yang di dominasi unsur feodalisme justru tidak mampu membumikan Islam lebih menyeluruh. Berbagai perang yang berkecamuk dan persaingan ekonomi antar kerajaan, mau tidak mau, berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam.
Ketika penulis cermati, dapat disimpulkan bahwa Islam di Indonesia pada masa masuknya ke Indonesia dan fase-fase awal penyebarannya di nusantara, baru di ambil kulit luar cangkangnya. Masalah pemurnian akidah, misalnya, tidak banyak diteruskan pendalamannya untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat luas. Label fundamentalis, radikal terlanjur melekat kepada mereka yang dengan gigih berusaha memurnikan akidah. Ajaran-ajaran walisongo hanya berhenti pada tataran Islam sebagai budaya.
Adanya bentrokan antar kerajaan bercorak Islam, mempertahankan wilayah ekonomis masing-masing, mengindikasikan bahwa Islam pada masa itu ternyata belum mengambil peran penting untuk menyatukan berbagai kerajaan Islam di nusantara. Namun, lagi-lagi, hal ini disebabkan Islam hanya sebatas pada budaya, sebagai simbol, sebagai fakta sejarah bahwa Dien ini pernah menyebarkan pengaruhnya sejak masa sejarah kerajaan. Ironisnya, justru paham-paham dari baratlah yang mampu menyatukan lebih lama masyarakat nusantara. Nasionalisme, demokrasi, komunis, liberal, sosialis.Hmm...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar