Laman

Senin, 28 Februari 2011

coretan 7

Kampus kerakyatan di kota pelajar beberapa tahun terakhir ini banyak bersolek. Kampus ini memang pada mulanya banyak saya takjub. Bagaimana tidak?Luas arealnya yang saya perkirakan menakup 1/4 dari luas wilayah kampung saya, bangunan2 megah yang berisi intelektual2 muda, apalagi prestasinya yang dibilang mentereng di mata Internasional. Tapi sayangnya, ketakjuban itu berubah menjadi rasa iba. Bukan iba pada umumnya masyarakat pahami. Iba karena perspektif "kerakyatan" yang pada mulanya tak mengenal kasta, akhir2 ini mulai bergeser menjadi rakyat dalam artian kelas menengah ke atas.

Kanpus kerakyatan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja, yang seharusnya selalu dengan rakyat tanpa mengenal kastaisme, menjadi semakin sulit dijangkau. Bangunan menara gading itu semakin menjulang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari biaya masuk, biaya selama perkuliahan, dan sekarang kebijakan penerapan KIK yang semakin menjauhkan kampus kerakyatan dengan rakyatnya yg sebenarnya. Beberapa teman mengatakan bahwa kampus kerakyatan sudah menjadi komersil, money-oriented, tanpa pernah tahu pasti untuk apa uang yang terkumpul itu. Penelitian?bahkan kawan2 mahasiswa pun harus bersusah payah mencari sponsor untuk penelitian2 mereka. Kegiatan kemahasiswaan?tanyakan saja berapa proposal kegiatan yg bs tembus kepada beberapa lembaga mahasiswa yg akan menyelenggarakan kegiatan.


Bagaimana jika digunakan untuk pembangunan di sekitar kampus?hmm...yg menjadi pertanyaan sebenarnya adalah bermanfaatkah bangunan2 tersebut? Perhatikan saja beberapa bangunan di daerah sekip. Salah satu pusat studi di sana yang seharusnya banyak dikunjungi mahasiswa, ataupun peneliti, atau masyarakat umum untuk berdiskusi atau sekedar mencari informasi terkait hal2 yg menjadi kajian studi, malah dikunjungi banyak ilalang dan lumut. Dua proyek yang beberapa bulan lalu sempat dikerjakan di belakang RS Sardjito dan di depan FKUnya saja seperti tidak lagi dilanjutkan, lebih tepatnya menunggu. Entah apa yang ditunggu. Di daerah kampus selatan pun banyak berdiri bangunan seperti "halte" hijau yang baru saya ketahui dari seorang kawan mahasiswa, akan digunakan untuk tempat pengelolaan sampah. Jika demikian, apa tidak terlihat mewah?Entahlah...Nasib Gama Plaza sendiri pun belum jelas. Antara ada dan tiada saja gedung di samping Bank BNI itu.

Kampus kerakyatan sekarang ini seperti sudah lupa dengan sejarahnya. Padahal founding father negeri ini pernah berpesan, JAS MERAH!JAngan Sekali-kali Melupakan sejarAH...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar