Laman

Selasa, 29 Maret 2011

Coretan 11

Menurut hemat penulis, Islam di Indonesia lebih sreg jika disebut sebagai Islam kerajaan. Jika kita membuka kembali buku teks pelajaran sejarah zaman SMA pada bab sejarah masuknya Islam di Indonesia, akan terlihat bahwa masuknya Islam tidak jauh berbeda dengan misi 3G milik barat. Yup, Gold, Glory, Gospel. Aspek ekonomi, perdagangan atau perniagaan lebih banyak disorot. Padahal, perdagangan hanyalah media dalam menanamkan kemuliaan Islam. Aspek Glory atau kejayaan lebih terlihat pada peran kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Kerajaan yang di dominasi unsur feodalisme justru tidak mampu membumikan Islam lebih menyeluruh. Berbagai perang yang berkecamuk dan persaingan ekonomi antar kerajaan, mau tidak mau, berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam.

Ketika penulis cermati, dapat disimpulkan bahwa Islam di Indonesia pada masa masuknya ke Indonesia dan fase-fase awal penyebarannya di nusantara, baru di ambil kulit luar cangkangnya. Masalah pemurnian akidah, misalnya, tidak banyak diteruskan pendalamannya untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat luas. Label fundamentalis, radikal terlanjur melekat kepada mereka yang dengan gigih berusaha memurnikan akidah. Ajaran-ajaran walisongo hanya berhenti pada tataran Islam sebagai budaya.

Adanya bentrokan antar kerajaan bercorak Islam, mempertahankan wilayah ekonomis masing-masing, mengindikasikan bahwa Islam pada masa itu ternyata belum mengambil peran penting untuk menyatukan berbagai kerajaan Islam di nusantara. Namun, lagi-lagi, hal ini disebabkan Islam hanya sebatas pada budaya, sebagai simbol, sebagai fakta sejarah bahwa Dien ini pernah menyebarkan pengaruhnya sejak masa sejarah kerajaan. Ironisnya, justru paham-paham dari baratlah yang mampu menyatukan lebih lama masyarakat nusantara. Nasionalisme, demokrasi, komunis, liberal, sosialis.Hmm...

Kamis, 24 Maret 2011

Coretan 10

Ilmu dan kekuasaan. Dua hal yang tidak jarang sering terjadi bentrok. Keduanya memang tidk mungkin tidak untuk saling mempengaruhi. Ilmu dan kekuasaan, di dunia nyata, ibarat dua sisi mata uang. Keduanya sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup umat manusia. Namun tidak jarang keduanya saling menjatuhkan.

Di tangan manusia, melalui alat bernama organisasi, dua hal itu saling diadu. Dalam dunia dakwah, mana yang lebih penting?Sifat dasar manusia yang lebih condong kepada kekuasaan, apapun embel-embel yang menyertai, bisa menepiskan peran keilmuan. Organisasi keilmuan dengan fokus interdisipliner ilmu tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh demi merebut kekuasaan.

berbicara tentang organisasi keilmuan, ada beberapa bentuk organisasi. Ada HMJ di tingkat jurusan, ada KSS maupun KSF di tingkat fakultas, dan ada KSU di tingkat universitas. Masing-masingnya memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam memandang keilmuan. HMJ dan KSS tentu sangat spesifik kajian keilmuannya, atau dengan kata lain hanya mengkaji satu bidang keilmuan. Sedangkan KSF dan KSU memiliki ranah kajian keilmuan yang lebih luas lagi. Jika melihat secara politis, keberadaan HMJ yang dikuasai oleh kawan2 da'i, tentu akan sangat menguntungkan, dan insyaALLAH akan berjalan maksimal. Namun, apakah dengan demikian lantas peran KSF dikesampingkan, bahkan "dibekukan" karena sudah tidak berfungsi lagi sebagai alat untuk merebut pengaruh?Pembentukan KSF diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antar HMJ di bidang keilmuan, artinya, ia menjadi sarana dalam berbagi ilmu yang menjadi spesifikasi kajian masing-masing HMJ. Dengan demikian, akan terjadi harmonisasi antar disiplin ilmu sehingga lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.

Kita memang membutuhkan orang-orang yang ahli di bidangnya. Namun, ketika mereka hanya mementingkan disiplin ilmunya, tanpa mau memahami disiplin ilmu lain, maka amal jama'i di bidang keilmuan tidak akan berjalan maksimal.

Sekali lagi penulis tekankan, bahwa masing-masing disiplin keilmuan pastilah saling terkait, tidak peduli setipis apapun keterkaitannya. Tugas kita, sebagai ilmuwan, cendekia, maupun yang peduli dengan masalah keilmuan adalah mempertahankan keterkaitan antar disiplin ilmu agar tidak menjadi trouble maker pada sebuah peradaban.

Senin, 14 Maret 2011

Coretan 9 (Wisata Hati)

"Belajar dari Bangsa Attaturk"

Pengalaman ini dialami ketika sebuah keluarga sedang menjalankan ibadah sholat Maghrib di Masjid Nabawi untuk pertama kalinya.

Ketika berada di Indonesia, permasalahan longgarnya shaf memang tidak begitu diperhatikan. Meskipun sudah banyak ulama yang mengingatkan pentingnya merapatkan shaf. Ratusan artikel juga tidak jarang yang menyinggung masalah keutamaan meluruskan, merapatkan, merapikan shaf. Kebiasaan "lalai memperhatikan" perihal shaf ini pun tidak serta merta hilang ketika berada di tanah suci, baik Makkah maupun Madinah. Perhatikan saja shaf para jamaah haji Indonesia terutama, tidak sedikit yang shafnya terbilang longgar sehingga memaksa para petugas sholat masjid Nabawi berteriak-teriak yang artinya kurang lebih, "rapatkan shafnya!!Itu masih longgar!". Tapi memang mungkin tabiat orang Indonesia yang kebal dengan teriakan2 yang nadanya sudah agak mengancam pun tak bergeming. Tetap duduk manis sambil berdzikir menunggu waktu sholat.

Berbeda halnya dengan bangsa Attaturk atau bangsa Turki. Mereka sangat memperhatikan betul perihal sholat. Meski celahnya kecil, tetap saja mereka isi. Benar2 rapat sehingga tidak jarang kesulitan untuk bergerak. Namun, maksud baik mereka kadang menghasilkan gerutuan dan umpatan dari jama'ah haji lain. Mengapa? Lagi-lagi melihat pada cara penyampaiannya. Adat bangsa kita yang mengenal kata "permisi" ketika hendak mengisi celah kosong dalam suatu forum yang sudah penuh sesak, begitu melihat bangsa Turki yang tanpa ba-bi-bu menggelar sajadah di tengah-tengah kumpulan jama'ah Indonesia, sontak membuat beberapa dari jama'ah memilih tempat lain. Tidak sedikit juga yang harus beradu isyarat "penolakan". Lucunya, meski sudah diajak berbahasa Inggris, bangsa Turki tetap menggunakan bahasa ibu mereka. Menggelikan memang ketika mengingat peristiwa ini.

Yup, lagi-lagi masalah penyampaian...ketika hal baik disampaikan dengan cara yang kurang atau tidak baik, ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan...

Rabu, 02 Maret 2011

coretan 8

Pak Djoko Utomo. Siapa saja yg terjun di dunia kearsipan tentu mengetahui betul pribadi satu ini. Saya terkejut karena ternyata pribadi satu ini sempat diinterview salah satu majalah yang menjadi langganan saya. Sedih juga karena selama masa perkuliahan, saya hanya mengenal beliau dari diskusi dengan beberapa senior kearsipan. Iya, di angkatan saya, beliau tidak sempat mengisi karena kepadatan aktivitasnya. Maklum saja, saat itu beliau masih menjabat sebagai kepala ANRI.

Siapa sangka bahwa beliau telah 37 tahun bersetia dengan arsip-arsip, yang dalam pandangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, masih tergolong marginal. Berbagai upaya beliau lakukan untuk mengembangkan kearsipan di Indonesia, memperbaiki pola pikir masyarakat tentang arsip, termasuk juga di kalangan pejabat. Termarginalnya kearsipan justru menantang kreativitas beliau.

Belajar arsip artinya belajar untuk menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Bagaimana tidak?Bukankah dari arsip kita jadi paham sejarah bangsa sendiri, untuk kemudian, dan sudah seharusnya, menjadi pijakan dasar untuk menyusun masa depan. Arsip menjadi tempat berkaca bagi banyak lembaga, entah formal maupun informal, terkait keberadaannya di masyarakat. Seberapa bermanfaatkah eksistensi mereka melalui kegiatan2 yang mereka selenggarakan? Bukankah arsip tercipta karena adanya aktivitas suatu lembaga yang mencerminkan tupoksi lembaga terkait?

Pak Djoko saja yang tidak berlatar pendidikan kearsipan bisa menjadi tertantang kreativitasnya untuk kearsipan, bagaimana dengan kita, kawan2 yang bergelut di dunia kearsipan? Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tapi tanyakan, apa yang sudah kau berikan untuk negaramu...