"Belajar dari Bangsa Attaturk"
Pengalaman ini dialami ketika sebuah keluarga sedang menjalankan ibadah sholat Maghrib di Masjid Nabawi untuk pertama kalinya.
Ketika berada di Indonesia, permasalahan longgarnya shaf memang tidak begitu diperhatikan. Meskipun sudah banyak ulama yang mengingatkan pentingnya merapatkan shaf. Ratusan artikel juga tidak jarang yang menyinggung masalah keutamaan meluruskan, merapatkan, merapikan shaf. Kebiasaan "lalai memperhatikan" perihal shaf ini pun tidak serta merta hilang ketika berada di tanah suci, baik Makkah maupun Madinah. Perhatikan saja shaf para jamaah haji Indonesia terutama, tidak sedikit yang shafnya terbilang longgar sehingga memaksa para petugas sholat masjid Nabawi berteriak-teriak yang artinya kurang lebih, "rapatkan shafnya!!Itu masih longgar!". Tapi memang mungkin tabiat orang Indonesia yang kebal dengan teriakan2 yang nadanya sudah agak mengancam pun tak bergeming. Tetap duduk manis sambil berdzikir menunggu waktu sholat.
Berbeda halnya dengan bangsa Attaturk atau bangsa Turki. Mereka sangat memperhatikan betul perihal sholat. Meski celahnya kecil, tetap saja mereka isi. Benar2 rapat sehingga tidak jarang kesulitan untuk bergerak. Namun, maksud baik mereka kadang menghasilkan gerutuan dan umpatan dari jama'ah haji lain. Mengapa? Lagi-lagi melihat pada cara penyampaiannya. Adat bangsa kita yang mengenal kata "permisi" ketika hendak mengisi celah kosong dalam suatu forum yang sudah penuh sesak, begitu melihat bangsa Turki yang tanpa ba-bi-bu menggelar sajadah di tengah-tengah kumpulan jama'ah Indonesia, sontak membuat beberapa dari jama'ah memilih tempat lain. Tidak sedikit juga yang harus beradu isyarat "penolakan". Lucunya, meski sudah diajak berbahasa Inggris, bangsa Turki tetap menggunakan bahasa ibu mereka. Menggelikan memang ketika mengingat peristiwa ini.
Yup, lagi-lagi masalah penyampaian...ketika hal baik disampaikan dengan cara yang kurang atau tidak baik, ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar