Laman

Kamis, 17 Februari 2011

Coretan 5

Apa yang terlintas dalam kepala kita ketika mendengar kata metro mini (mini bus) atau kalau di kota asal saya biasa disebut "bis tuyul"?Akap, Kopaja, Kopata, dan cs2nya?Sebuah bus berukuran kecil dengan warna agak kusam, asap knalpot yang mengungkung jalanan, sopir yang sering ugal2an, tak jarang mengacuhkan lampu lalu lintas, teriakan2 tak terkendali untuk menarik penumpang. Tapi lebih banyak juga teriakan caci maki lantaran si sopir seperti tak punya etika, main srobot tanpa terlebih dulu membunyikan klakson, berhenti tiba2, minggir atau berbelok tanpa menyalakan lampu riting. Bahkan ada juga kondektur yang berbuat tidak patut kepada penumpang wanita.

Metomini, sering menjadi angkutan alternatif yang lumayan murah dan membuat kita selalu "berolahraga", senam jantung lebih tepatnya. Tapi saya tidak merekomendasikan "olah raga" ini untuk penderita sakit jantung. Bagaimana tidak?Dengan segala hal yang saya sebutkan di atas, tak hanya penumpang yang harus menahan nafas dan kesabaran, tapi juga pengguna jalan lain harus ekstra sabar dengan tingkah polah kendaraan metro mini ini. Jejak ugal2an si sopir metro mini tak sedikit yang diikuti  para sopir taksi dan angkot.

Meski saya lebih sering menggunakan sepeda motor, bukan berarti saya tidak pernah merasakan menjadi penumpang metro mini lho. Di Yogyakarta saja banyak metro mini yang sudah sedemikian parah negatifnya hingga tak jarang nyaris terjadi kecelakaan. Bagaimana dengan Jakarta?Kota yang sudah terkenal dengan kemacetannya ini, menurut harian Kompas terbitan Kamis, 17 Februari 2011, banyak metro mini yang menelan korban jiwa. Dengan alasan kejar setoran, tak jarang nyawa manusia menjadi tumbalnya. Bahkan disebutkan bahwa, kebanyakan sopir metro mini adalah sopir "tembak" alias bukan sopir resmi metro mini. Para sopir "tembak" biasanya beraktivitas ketika si sopir resmi sedang beristirahat. Tak sedikit pula sopir yang yang baru saja selesai belajar mengemudi, langsung "narik". Oi, bayangkan saja, orang yang baru belajar nyetir sudah harus dituntut kejar setoran dengan sistem ugal2an!

Metro mini memang menjadi salah satu alternatif kendaraan untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi, yang tidak jarang makin membuat kacau lalu lintas jalan raya. Namun, jika sisi negatifnya tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin akan masuk dalam daftar pembunuh mematikan setelah jantung, di Indonesia. Bahkan tingkat poulusinya bisa jadi lebih parah dari kendaraan2 pribadi. Keberadaan bus2 trans (transjakarta maupun transjogja) malah menjadikan si sopir makin agresif kejar setoran, makin tinggi juga tingkat ugal2annya.

Pemakaian sepeda maupun berjalan kaki untuk menempuh perjalanan jarak dekat memang bisa menjadi salah satu solusi menciptakan udara bersih. Sepeda motor pun sebetulnya bisa menyumbang kebersihan udara jika dirawat dengan maksimal dan tak terlalu pemakaiannya. Bagaimana dengan mobil?Kendaraan satu ini lebih saya rekomendasikan bagi kawan2 yang sudah berstatus "berkeluarga" dengan jumlah anak lebih dari 2. Bukankah mobil juga penyumbang besar parahnya kemacetan lalu lintas di Indonesia. Bagi yang masih single, pikirkan ulang untuk memiliki mobil pribadi selain mobil milik keluarga tentunya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar