Kampus kerakyatan di kota pelajar beberapa tahun terakhir ini banyak bersolek. Kampus ini memang pada mulanya banyak saya takjub. Bagaimana tidak?Luas arealnya yang saya perkirakan menakup 1/4 dari luas wilayah kampung saya, bangunan2 megah yang berisi intelektual2 muda, apalagi prestasinya yang dibilang mentereng di mata Internasional. Tapi sayangnya, ketakjuban itu berubah menjadi rasa iba. Bukan iba pada umumnya masyarakat pahami. Iba karena perspektif "kerakyatan" yang pada mulanya tak mengenal kasta, akhir2 ini mulai bergeser menjadi rakyat dalam artian kelas menengah ke atas.
Kanpus kerakyatan yang seharusnya terbuka bagi siapa saja, yang seharusnya selalu dengan rakyat tanpa mengenal kastaisme, menjadi semakin sulit dijangkau. Bangunan menara gading itu semakin menjulang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari biaya masuk, biaya selama perkuliahan, dan sekarang kebijakan penerapan KIK yang semakin menjauhkan kampus kerakyatan dengan rakyatnya yg sebenarnya. Beberapa teman mengatakan bahwa kampus kerakyatan sudah menjadi komersil, money-oriented, tanpa pernah tahu pasti untuk apa uang yang terkumpul itu. Penelitian?bahkan kawan2 mahasiswa pun harus bersusah payah mencari sponsor untuk penelitian2 mereka. Kegiatan kemahasiswaan?tanyakan saja berapa proposal kegiatan yg bs tembus kepada beberapa lembaga mahasiswa yg akan menyelenggarakan kegiatan.
Bagaimana jika digunakan untuk pembangunan di sekitar kampus?hmm...yg menjadi pertanyaan sebenarnya adalah bermanfaatkah bangunan2 tersebut? Perhatikan saja beberapa bangunan di daerah sekip. Salah satu pusat studi di sana yang seharusnya banyak dikunjungi mahasiswa, ataupun peneliti, atau masyarakat umum untuk berdiskusi atau sekedar mencari informasi terkait hal2 yg menjadi kajian studi, malah dikunjungi banyak ilalang dan lumut. Dua proyek yang beberapa bulan lalu sempat dikerjakan di belakang RS Sardjito dan di depan FKUnya saja seperti tidak lagi dilanjutkan, lebih tepatnya menunggu. Entah apa yang ditunggu. Di daerah kampus selatan pun banyak berdiri bangunan seperti "halte" hijau yang baru saya ketahui dari seorang kawan mahasiswa, akan digunakan untuk tempat pengelolaan sampah. Jika demikian, apa tidak terlihat mewah?Entahlah...Nasib Gama Plaza sendiri pun belum jelas. Antara ada dan tiada saja gedung di samping Bank BNI itu.
Kampus kerakyatan sekarang ini seperti sudah lupa dengan sejarahnya. Padahal founding father negeri ini pernah berpesan, JAS MERAH!JAngan Sekali-kali Melupakan sejarAH...
Senin, 28 Februari 2011
Rabu, 23 Februari 2011
coretan 6
Fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara. Kurang lebih begitulah salah satu teori manajemen rakyat kelas bawah oleh negara saya. Teori ini kemudian dibakukan dalam salah satu pasal di UUD 1945. Yang jelas, saya tidak akan banyak mengkritik negara (pemerintah) tentang betapa sulitnya mereka me-menej kelas paling bawah dalam masyarakat.
Kemiskinan, bagi sebagian orang dianggap sudah menjadi takdir. Jika hanya dilihat dari sisi materi saja, ukuran miskin dan kaya menjadi sangat terbatas. Tak jarang pula memperlebar jurang kesenjangan. Dalam agama saya, tidak diajarkan hidup miskin, yang ada justru umat Islam diajak untuk menjadi kaya. Oi, jangan menyamakan antara hidup sederhana dengan miskin lho.
Beberapa waktu lalu, dalam salah satu majalah Islam, diangkat topik yang sangat menarik. Tidak jauh dari kosakata miskin dan kaya. Hal yang menarik saya cermati adalah bahwa beberapa ulama zaman dulu, masa tabi'in hingga tabi' tabi'in adalah ulama2 kaya, tentu saja kaya secara materi. Ulama2 ahli hadits, hafidz Qur'an, dilimpahi karunia oleh Allah dengan kemelimpahan harta. Bayangkan saja, dalam sehari, beliau2 ini mampu memperoleh penghasilan lebih dari 350 juta!Masya Allah....ukuran yang cukup fantastis untuk ukuran seorang pedagang. Yup, beliau2 ini, selain seorang ulama, juga seorang pedagang. Saya tidak sedang merekomendasikan berdagang sebagai satu2nya media untuk meraih kesuksesan dunia itu. Ada satu hal yang dapat kita teladani dari perjalanan hidup ulama2 kaya tersebut.
Ulama, sering diidentikkan dengan sifat zuhud. Bagi sebagian besar umat Islam, zuhud diartikan dengan mejauhi dunia, jauh dari segala kemewahan, ntah uang maupun fasilitas hidup yang serba luks.Benar2 hidup apa adanya, bahkan tak jarang yang mendekati hidup miskin. Lantas, bagaimana dengan ulama2 kaya yang kisah hidupnya diangkat dalam tema majalah tersebut?Zuhud, dalam pandangan mereka adalah bagaimana cara untuk mengelola karunia Allah yang sedemikian besar agar tak menjadi malapetaka, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau2 mendapat banyak keuntungan, dan sebagian besar keuntungan itu disalurkan untuk fakir2 miskin, mensejahterakan lingkup pendidikan, berlomba2 memenuhi baitul maal. Bagian untuk mereka bahkan hanya cukup untuk kebutuhan hidup paling mendasar, tak begitu banyak barang sekunder, apalagi hal2 yang tersier.
Naah, bagaimana dengan kita?kebetulan, saya juga sedang belajar mengikuti jejak beliau2 itu. Jika dikaitkan dengan pemeliharaan fakir miskin dan anak2 terlantar, ternyata dalam Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab negara (pemerintah) saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Memelihara, artinya tidak dibiarkan saja keberadaannya sebagai peminta2, pemulung dan berbagai ketidaklayakan sebagai manusia. Memelihara, bukan juga sebagai media untuk memberikan sumbangan2, tapi juga memberikan pemahaman untuk hidup lebih layak, bahkan menjadi kaya. Kaya yang zuhud...
Kemiskinan, bagi sebagian orang dianggap sudah menjadi takdir. Jika hanya dilihat dari sisi materi saja, ukuran miskin dan kaya menjadi sangat terbatas. Tak jarang pula memperlebar jurang kesenjangan. Dalam agama saya, tidak diajarkan hidup miskin, yang ada justru umat Islam diajak untuk menjadi kaya. Oi, jangan menyamakan antara hidup sederhana dengan miskin lho.
Beberapa waktu lalu, dalam salah satu majalah Islam, diangkat topik yang sangat menarik. Tidak jauh dari kosakata miskin dan kaya. Hal yang menarik saya cermati adalah bahwa beberapa ulama zaman dulu, masa tabi'in hingga tabi' tabi'in adalah ulama2 kaya, tentu saja kaya secara materi. Ulama2 ahli hadits, hafidz Qur'an, dilimpahi karunia oleh Allah dengan kemelimpahan harta. Bayangkan saja, dalam sehari, beliau2 ini mampu memperoleh penghasilan lebih dari 350 juta!Masya Allah....ukuran yang cukup fantastis untuk ukuran seorang pedagang. Yup, beliau2 ini, selain seorang ulama, juga seorang pedagang. Saya tidak sedang merekomendasikan berdagang sebagai satu2nya media untuk meraih kesuksesan dunia itu. Ada satu hal yang dapat kita teladani dari perjalanan hidup ulama2 kaya tersebut.
Ulama, sering diidentikkan dengan sifat zuhud. Bagi sebagian besar umat Islam, zuhud diartikan dengan mejauhi dunia, jauh dari segala kemewahan, ntah uang maupun fasilitas hidup yang serba luks.Benar2 hidup apa adanya, bahkan tak jarang yang mendekati hidup miskin. Lantas, bagaimana dengan ulama2 kaya yang kisah hidupnya diangkat dalam tema majalah tersebut?Zuhud, dalam pandangan mereka adalah bagaimana cara untuk mengelola karunia Allah yang sedemikian besar agar tak menjadi malapetaka, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau2 mendapat banyak keuntungan, dan sebagian besar keuntungan itu disalurkan untuk fakir2 miskin, mensejahterakan lingkup pendidikan, berlomba2 memenuhi baitul maal. Bagian untuk mereka bahkan hanya cukup untuk kebutuhan hidup paling mendasar, tak begitu banyak barang sekunder, apalagi hal2 yang tersier.
Naah, bagaimana dengan kita?kebetulan, saya juga sedang belajar mengikuti jejak beliau2 itu. Jika dikaitkan dengan pemeliharaan fakir miskin dan anak2 terlantar, ternyata dalam Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab negara (pemerintah) saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Memelihara, artinya tidak dibiarkan saja keberadaannya sebagai peminta2, pemulung dan berbagai ketidaklayakan sebagai manusia. Memelihara, bukan juga sebagai media untuk memberikan sumbangan2, tapi juga memberikan pemahaman untuk hidup lebih layak, bahkan menjadi kaya. Kaya yang zuhud...
Kamis, 17 Februari 2011
Coretan 5
Apa yang terlintas dalam kepala kita ketika mendengar kata metro mini (mini bus) atau kalau di kota asal saya biasa disebut "bis tuyul"?Akap, Kopaja, Kopata, dan cs2nya?Sebuah bus berukuran kecil dengan warna agak kusam, asap knalpot yang mengungkung jalanan, sopir yang sering ugal2an, tak jarang mengacuhkan lampu lalu lintas, teriakan2 tak terkendali untuk menarik penumpang. Tapi lebih banyak juga teriakan caci maki lantaran si sopir seperti tak punya etika, main srobot tanpa terlebih dulu membunyikan klakson, berhenti tiba2, minggir atau berbelok tanpa menyalakan lampu riting. Bahkan ada juga kondektur yang berbuat tidak patut kepada penumpang wanita.
Metomini, sering menjadi angkutan alternatif yang lumayan murah dan membuat kita selalu "berolahraga", senam jantung lebih tepatnya. Tapi saya tidak merekomendasikan "olah raga" ini untuk penderita sakit jantung. Bagaimana tidak?Dengan segala hal yang saya sebutkan di atas, tak hanya penumpang yang harus menahan nafas dan kesabaran, tapi juga pengguna jalan lain harus ekstra sabar dengan tingkah polah kendaraan metro mini ini. Jejak ugal2an si sopir metro mini tak sedikit yang diikuti para sopir taksi dan angkot.
Meski saya lebih sering menggunakan sepeda motor, bukan berarti saya tidak pernah merasakan menjadi penumpang metro mini lho. Di Yogyakarta saja banyak metro mini yang sudah sedemikian parah negatifnya hingga tak jarang nyaris terjadi kecelakaan. Bagaimana dengan Jakarta?Kota yang sudah terkenal dengan kemacetannya ini, menurut harian Kompas terbitan Kamis, 17 Februari 2011, banyak metro mini yang menelan korban jiwa. Dengan alasan kejar setoran, tak jarang nyawa manusia menjadi tumbalnya. Bahkan disebutkan bahwa, kebanyakan sopir metro mini adalah sopir "tembak" alias bukan sopir resmi metro mini. Para sopir "tembak" biasanya beraktivitas ketika si sopir resmi sedang beristirahat. Tak sedikit pula sopir yang yang baru saja selesai belajar mengemudi, langsung "narik". Oi, bayangkan saja, orang yang baru belajar nyetir sudah harus dituntut kejar setoran dengan sistem ugal2an!
Metro mini memang menjadi salah satu alternatif kendaraan untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi, yang tidak jarang makin membuat kacau lalu lintas jalan raya. Namun, jika sisi negatifnya tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin akan masuk dalam daftar pembunuh mematikan setelah jantung, di Indonesia. Bahkan tingkat poulusinya bisa jadi lebih parah dari kendaraan2 pribadi. Keberadaan bus2 trans (transjakarta maupun transjogja) malah menjadikan si sopir makin agresif kejar setoran, makin tinggi juga tingkat ugal2annya.
Pemakaian sepeda maupun berjalan kaki untuk menempuh perjalanan jarak dekat memang bisa menjadi salah satu solusi menciptakan udara bersih. Sepeda motor pun sebetulnya bisa menyumbang kebersihan udara jika dirawat dengan maksimal dan tak terlalu pemakaiannya. Bagaimana dengan mobil?Kendaraan satu ini lebih saya rekomendasikan bagi kawan2 yang sudah berstatus "berkeluarga" dengan jumlah anak lebih dari 2. Bukankah mobil juga penyumbang besar parahnya kemacetan lalu lintas di Indonesia. Bagi yang masih single, pikirkan ulang untuk memiliki mobil pribadi selain mobil milik keluarga tentunya..
Metomini, sering menjadi angkutan alternatif yang lumayan murah dan membuat kita selalu "berolahraga", senam jantung lebih tepatnya. Tapi saya tidak merekomendasikan "olah raga" ini untuk penderita sakit jantung. Bagaimana tidak?Dengan segala hal yang saya sebutkan di atas, tak hanya penumpang yang harus menahan nafas dan kesabaran, tapi juga pengguna jalan lain harus ekstra sabar dengan tingkah polah kendaraan metro mini ini. Jejak ugal2an si sopir metro mini tak sedikit yang diikuti para sopir taksi dan angkot.
Meski saya lebih sering menggunakan sepeda motor, bukan berarti saya tidak pernah merasakan menjadi penumpang metro mini lho. Di Yogyakarta saja banyak metro mini yang sudah sedemikian parah negatifnya hingga tak jarang nyaris terjadi kecelakaan. Bagaimana dengan Jakarta?Kota yang sudah terkenal dengan kemacetannya ini, menurut harian Kompas terbitan Kamis, 17 Februari 2011, banyak metro mini yang menelan korban jiwa. Dengan alasan kejar setoran, tak jarang nyawa manusia menjadi tumbalnya. Bahkan disebutkan bahwa, kebanyakan sopir metro mini adalah sopir "tembak" alias bukan sopir resmi metro mini. Para sopir "tembak" biasanya beraktivitas ketika si sopir resmi sedang beristirahat. Tak sedikit pula sopir yang yang baru saja selesai belajar mengemudi, langsung "narik". Oi, bayangkan saja, orang yang baru belajar nyetir sudah harus dituntut kejar setoran dengan sistem ugal2an!
Metro mini memang menjadi salah satu alternatif kendaraan untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi, yang tidak jarang makin membuat kacau lalu lintas jalan raya. Namun, jika sisi negatifnya tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin akan masuk dalam daftar pembunuh mematikan setelah jantung, di Indonesia. Bahkan tingkat poulusinya bisa jadi lebih parah dari kendaraan2 pribadi. Keberadaan bus2 trans (transjakarta maupun transjogja) malah menjadikan si sopir makin agresif kejar setoran, makin tinggi juga tingkat ugal2annya.
Pemakaian sepeda maupun berjalan kaki untuk menempuh perjalanan jarak dekat memang bisa menjadi salah satu solusi menciptakan udara bersih. Sepeda motor pun sebetulnya bisa menyumbang kebersihan udara jika dirawat dengan maksimal dan tak terlalu pemakaiannya. Bagaimana dengan mobil?Kendaraan satu ini lebih saya rekomendasikan bagi kawan2 yang sudah berstatus "berkeluarga" dengan jumlah anak lebih dari 2. Bukankah mobil juga penyumbang besar parahnya kemacetan lalu lintas di Indonesia. Bagi yang masih single, pikirkan ulang untuk memiliki mobil pribadi selain mobil milik keluarga tentunya..
Senin, 14 Februari 2011
Coretan 4
Pinjam, meminjam, pinjama, apapun imbuhan yang dilekatkanpada kata pertama yang saya tulis, memang bisa menimbulkan multi tafsir. Kadangkala positif, lain waktu bisa jadi negatif, apalagi jika dikaitkan dengan uang. Ada satu cerita dari rangkaian mozaik dalam novel Ranah 3 Warna yang mengupas sisi negatif dari kata "meminjam". Sebuah kata yang akhirnya merenggangkan persahabatan dalam waktu sekian detik. Meski dalam beberapa mozaik selanjutnya, kerenggangan itu bisa kembali dieratkan.
Pinjam, meminjam, memang berimbas pada rasa ketergantungan, dan sering berdampak sangat mengerikan. Lihat saja negara-negara yang menggantungkan diri pada kata pinjam, lebih tepatnya "pinjaman". Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, lihat saja Indonesia. Sudah pinjamannya menggunung, tapi manfaat pinjaman itu seperti tak terasa hingga akar rumput. Pinjaman yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang sebaiknya digunakan untuk membuat sesuatu yang bisa menghasilkan lebih dari pinjaman, malah dikorupsi. Lebih banyak dihamburkan untuk sesuatu yang jauh dari kata "berguna" dan "bermanfaat". Gali lubang, tutup lubang.
Pinjam, meminjam, pinjaman, tentu saja tidak diharamkan. Tapi menurut saya, ini menjadi jalan terakhir, dan harus benar-benar dipertimbangkan positif negatifnya bagi peminjam, pihak yang dipinjam, dan sesuatu yang dipinjam, agar lebih banyak kemanfaatannya.
Pinjam, meminjam, memang berimbas pada rasa ketergantungan, dan sering berdampak sangat mengerikan. Lihat saja negara-negara yang menggantungkan diri pada kata pinjam, lebih tepatnya "pinjaman". Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, lihat saja Indonesia. Sudah pinjamannya menggunung, tapi manfaat pinjaman itu seperti tak terasa hingga akar rumput. Pinjaman yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang sebaiknya digunakan untuk membuat sesuatu yang bisa menghasilkan lebih dari pinjaman, malah dikorupsi. Lebih banyak dihamburkan untuk sesuatu yang jauh dari kata "berguna" dan "bermanfaat". Gali lubang, tutup lubang.
Pinjam, meminjam, pinjaman, tentu saja tidak diharamkan. Tapi menurut saya, ini menjadi jalan terakhir, dan harus benar-benar dipertimbangkan positif negatifnya bagi peminjam, pihak yang dipinjam, dan sesuatu yang dipinjam, agar lebih banyak kemanfaatannya.
Sabtu, 12 Februari 2011
Coretan 3
Judi, judi, judi....
Makin lama, Indonesia bisa jadi negara judi. Program undian berhadiah, uang kontan terutama, tak lagi dimiliki produsen2 barang atau makanan dan minuman saja. Siapapun bisa membuat program undian ini. Apalagi sekarang sudah zamanny "sms". Hanya dengan bermodal sms beberapa ratus atau ribuan rupiah, kita dijanjikan hadiah uang tunai hingga milyaran rupiah. Bahkan, peserta tidak hanya dari kalangan tertentu, siapapun bisa, wong modalnya cuma hape yang berisi pulsa, kirim sms ke nomor sekian, tinggal tunggu keajaiban saja, apakah kita termasuk yang menjadi OKB.
Program undian berhadiah dan sejenisnya (yang menawarkan uang bin fulus tanpa harus bekerja keras), sudah sejak dulu mendapat restu dari pemerintah. Kalau kawan2 penggemar novel Bang Tere-Liye, mungkin masih ingat kisah Burlian. Anak yang masih duduk di bangku kelas 4(kalau tidak salah) sudah berani mencuri uang milik Mamaknya hanya karena selembar kupon SDSB (program pemerintah di era orde baru, bisa dibaca lengkapnya di novel Burlian), dan tentu saja sensasi yang dirasakan ketika menunggu pengumuman siapa yang beruntung, lebih dari sensasi yang dirasakan ketika kita menunggu hasil ujian CPNS, misalnya.
Tidak sedikit juga pemerintah daerah yang pendapatan daerahnya diperoleh dari judi (dengan segala sinonimnya). Ini sama artinya, secara tidak langsung, pemerintah sudah memberikan izin agar penyakit "malas untuk bekerja keras" menggerogoti mental bangsa. Padahal Allah sudah mengingatkan,
Artinya: "Wahai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamr (minuman keras) berjudi ( berkorban utk ) berhala & mengundi nasib dg anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras & judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu & menghalangi kamu dari mengingat Allah & melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maa-idah: 90-91)"
Ah negara kita khan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila, bukan berdasakan Al Qur'an maupun hadist. hmmm....
Makin lama, Indonesia bisa jadi negara judi. Program undian berhadiah, uang kontan terutama, tak lagi dimiliki produsen2 barang atau makanan dan minuman saja. Siapapun bisa membuat program undian ini. Apalagi sekarang sudah zamanny "sms". Hanya dengan bermodal sms beberapa ratus atau ribuan rupiah, kita dijanjikan hadiah uang tunai hingga milyaran rupiah. Bahkan, peserta tidak hanya dari kalangan tertentu, siapapun bisa, wong modalnya cuma hape yang berisi pulsa, kirim sms ke nomor sekian, tinggal tunggu keajaiban saja, apakah kita termasuk yang menjadi OKB.
Program undian berhadiah dan sejenisnya (yang menawarkan uang bin fulus tanpa harus bekerja keras), sudah sejak dulu mendapat restu dari pemerintah. Kalau kawan2 penggemar novel Bang Tere-Liye, mungkin masih ingat kisah Burlian. Anak yang masih duduk di bangku kelas 4(kalau tidak salah) sudah berani mencuri uang milik Mamaknya hanya karena selembar kupon SDSB (program pemerintah di era orde baru, bisa dibaca lengkapnya di novel Burlian), dan tentu saja sensasi yang dirasakan ketika menunggu pengumuman siapa yang beruntung, lebih dari sensasi yang dirasakan ketika kita menunggu hasil ujian CPNS, misalnya.
Tidak sedikit juga pemerintah daerah yang pendapatan daerahnya diperoleh dari judi (dengan segala sinonimnya). Ini sama artinya, secara tidak langsung, pemerintah sudah memberikan izin agar penyakit "malas untuk bekerja keras" menggerogoti mental bangsa. Padahal Allah sudah mengingatkan,
Artinya: "Wahai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamr (minuman keras) berjudi ( berkorban utk ) berhala & mengundi nasib dg anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras & judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu & menghalangi kamu dari mengingat Allah & melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maa-idah: 90-91)"
Ah negara kita khan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila, bukan berdasakan Al Qur'an maupun hadist. hmmm....
Kamis, 10 Februari 2011
Coretan II
Beberapa opsi penyelesaian masalah Ahmadiyah mulai bermunculan. Namun dari sekian banyak opsi, yang paling menggelikan adalah membiarkan Ahmadiyah tetap ada tanpa ada usaha meluruskan pemahaman mereka yang menyimpang tentang Rasulullah SAW. Salah satu surat kabar terbitan hari ini pun menerbitkan opini salah satu cendekiawan nasional yang sangat kontraproduktif.
Lagi-lagi atas nama HAM yang banyak digaungkan negara-negara sekuler menjadi alasan Ahmadiyah tetap dibiarkan eksistensinya. Ahmadiyah memang tidak melakukan kekerasan fisik, tak pernah mengusik eksistensi perangkat negara, apalagi mengobrak-abrik dasar-dasar negara (Pancasila cs), tapi Ahmadiyah secara sadar sudah melakukan kekerasan ruhani, memukul jantung umat Islam yang meyakini Rasulullah Muhammad sebagai nabi penutup, merobek-robek hukum Tuhan(Allah SWT). Mungkin akan menjadi lain masalah jika si pencetus Ahmadiyah ini hanya menyatakan diri sebagai ulama, imam suatu mazhab, tanpa embel-embel "nabi" atau "kenabian".
Demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, tetapi ketika perbedaan pandangan tersebut sudah menyimpang dari firman Tuhan, masih pantaskah disebut demokrasi?Manusia zaman sekarang sudah layaknya Fir'aun yang berani menganggap dirinya Tuhan (atau setara dengan kedudukan Tuhan). Memang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai atau setara dengan Tuhan, melainkan melalui hukum, akal yang melahirkan gagasan untuk menantang Tuhan bahwa manusia juga bisa berbuat sebagaimana Tuhan bertindak!Astaghfirullah...
Lagi-lagi atas nama HAM yang banyak digaungkan negara-negara sekuler menjadi alasan Ahmadiyah tetap dibiarkan eksistensinya. Ahmadiyah memang tidak melakukan kekerasan fisik, tak pernah mengusik eksistensi perangkat negara, apalagi mengobrak-abrik dasar-dasar negara (Pancasila cs), tapi Ahmadiyah secara sadar sudah melakukan kekerasan ruhani, memukul jantung umat Islam yang meyakini Rasulullah Muhammad sebagai nabi penutup, merobek-robek hukum Tuhan(Allah SWT). Mungkin akan menjadi lain masalah jika si pencetus Ahmadiyah ini hanya menyatakan diri sebagai ulama, imam suatu mazhab, tanpa embel-embel "nabi" atau "kenabian".
Demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, tetapi ketika perbedaan pandangan tersebut sudah menyimpang dari firman Tuhan, masih pantaskah disebut demokrasi?Manusia zaman sekarang sudah layaknya Fir'aun yang berani menganggap dirinya Tuhan (atau setara dengan kedudukan Tuhan). Memang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai atau setara dengan Tuhan, melainkan melalui hukum, akal yang melahirkan gagasan untuk menantang Tuhan bahwa manusia juga bisa berbuat sebagaimana Tuhan bertindak!Astaghfirullah...
coretan I
Kekerasan bernuansa SARA kembali terjadi. Dua kali berturut2, dn diprediksikan bakal menjalar jika tidak segera ditindak tegas. Sayangnya niih, kembali membawa nama Islam, sebagai agama yang mayoritas dianut bangsa Indonesia. Bisa jadi hanya dari segelintir persoon yang memantik, tapi apa akibatnya?Ya Allah....
Volume tantangan dakwah semakin meninggi. Perang urat syaraf diyakini lebih kencang. Ketika media selalu berteriak masalah HAM, menghadirkan tokoh2 yang kurang objektif sebenarnya (dalam pandangan saya). Seolah mereka kurang berani menghadirkan sumber2 yang selama ini "dituduh" melakukan kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan saya, ketika hendak mencari titik terang, ajukanlah juga sumber2 yang "dituduh" tersebut, jadi masyarakat awam tidak mempersepsikan miring terhadap suatu agama. Namun, jalan dialog saja sebenarnya tidak cukup. Harus ada pengawalan dari hasil dialog, apapun bentuknya, kecuali dengan kekerasan tentu.
Kerukunan umat beragama, hidup berdampingan tanpa harus menyinggung prinsip hidup masing2 umat beragama. Hidup bersama dengan saling mengingatkan dan meluruskan ketika terjadi kekeliruan dalam pemahaman prinsip antar umat se-agama. Karena sesungguhnya, umat beragama menjadi benteng moral dari ancaman kebejatan2 yang menggerogoti metal suatu bangsa..
Volume tantangan dakwah semakin meninggi. Perang urat syaraf diyakini lebih kencang. Ketika media selalu berteriak masalah HAM, menghadirkan tokoh2 yang kurang objektif sebenarnya (dalam pandangan saya). Seolah mereka kurang berani menghadirkan sumber2 yang selama ini "dituduh" melakukan kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan saya, ketika hendak mencari titik terang, ajukanlah juga sumber2 yang "dituduh" tersebut, jadi masyarakat awam tidak mempersepsikan miring terhadap suatu agama. Namun, jalan dialog saja sebenarnya tidak cukup. Harus ada pengawalan dari hasil dialog, apapun bentuknya, kecuali dengan kekerasan tentu.
Kerukunan umat beragama, hidup berdampingan tanpa harus menyinggung prinsip hidup masing2 umat beragama. Hidup bersama dengan saling mengingatkan dan meluruskan ketika terjadi kekeliruan dalam pemahaman prinsip antar umat se-agama. Karena sesungguhnya, umat beragama menjadi benteng moral dari ancaman kebejatan2 yang menggerogoti metal suatu bangsa..
Langganan:
Postingan (Atom)
