Laman

Rabu, 02 Maret 2011

coretan 8

Pak Djoko Utomo. Siapa saja yg terjun di dunia kearsipan tentu mengetahui betul pribadi satu ini. Saya terkejut karena ternyata pribadi satu ini sempat diinterview salah satu majalah yang menjadi langganan saya. Sedih juga karena selama masa perkuliahan, saya hanya mengenal beliau dari diskusi dengan beberapa senior kearsipan. Iya, di angkatan saya, beliau tidak sempat mengisi karena kepadatan aktivitasnya. Maklum saja, saat itu beliau masih menjabat sebagai kepala ANRI.

Siapa sangka bahwa beliau telah 37 tahun bersetia dengan arsip-arsip, yang dalam pandangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, masih tergolong marginal. Berbagai upaya beliau lakukan untuk mengembangkan kearsipan di Indonesia, memperbaiki pola pikir masyarakat tentang arsip, termasuk juga di kalangan pejabat. Termarginalnya kearsipan justru menantang kreativitas beliau.

Belajar arsip artinya belajar untuk menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Bagaimana tidak?Bukankah dari arsip kita jadi paham sejarah bangsa sendiri, untuk kemudian, dan sudah seharusnya, menjadi pijakan dasar untuk menyusun masa depan. Arsip menjadi tempat berkaca bagi banyak lembaga, entah formal maupun informal, terkait keberadaannya di masyarakat. Seberapa bermanfaatkah eksistensi mereka melalui kegiatan2 yang mereka selenggarakan? Bukankah arsip tercipta karena adanya aktivitas suatu lembaga yang mencerminkan tupoksi lembaga terkait?

Pak Djoko saja yang tidak berlatar pendidikan kearsipan bisa menjadi tertantang kreativitasnya untuk kearsipan, bagaimana dengan kita, kawan2 yang bergelut di dunia kearsipan? Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tapi tanyakan, apa yang sudah kau berikan untuk negaramu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar