Laman

Jumat, 06 Mei 2011

Coretan 13

beberapa waktu yang lalu jika kita perhatikan banyak kasus yang berkaitan dengan dokumen, arsip. Dari kasus artis lokal yang berbeda antara lisan dengan data yang tertera dalam sebuah dokumen, hingga tokokh sekaliber presiden negara adikuasa yang dipaksa untuk memperlihatkan dokumen akta lahirnya. Sebetulnya, kasus yang membelit beberapa public figure yang kemudian membawa dokumen (arsip) keabsahan atas suatu peristiwa sudah banyak diekspos. Hanya saja, kita yang mengaku belajar banyak tentang dokumen (arsip), lebih enjoy dan lebih semangat dengan sensasi-sensasi informasinya.

Perbedaan antara sumber lisan dengan sumber data atau dokumen menimbulkan pertanyaan, yang manakah yang patut kita jadikan acuan utama? Terlepas dari apakah dokumen (arsip) itu mengandung unsur rekayasa atau tidak, kita, yang pernah memperlajari secara lebih spesifik tentang dokumen (arsip) tentu dituntut untuk menjawab secara lebih ilmiah.Dokumen (arsip) tercipta karena adanya suatu kegiatan atatu peristiwa, entah terjadi dalam lingkup kelompok maupun individu. Dokumen (arsip) tentu dibuat oleh suatu lembaga, organisasi resmi yang diakui keberadaan dan kemanfaatannya oleh masyarakat luas. Hal ini yang seharusnya diperhatikan ketika terjadi kontroversi perbedaan antara sumber lisan dengan sumber dokumen (arsip).

Maraknya kasus yang kemudian mengetengahkan sumber dokumen (arsip) sebagai alat bukti yang kuat, seharusnya menjadikan kesadaran masyarakat akan pentingnya dokumen (arsip) semakin meningkat. hal ini juga seharusnya menjadi pemacu semangat para pakar arsip maupun dokumen untuk lebih giat memperdalam dan menyebarluaskan ilmunya hingga masyarakat akar rumput.

Perkembangan teknologi yang semakin marak  hingga ke ranah ilmu kearsipan dan dokumentasi tidak serta merta menjadikan dokumen (arsip) konvensional atau tekstual dengan elektronik menjadi dipertentangkan. Masing-masingnya memiliki kelemahan dan kelemahan. Tugas kita adalah bagaimana mengelola keduanya agar memunculkan kebermanfaat dan keoptimalan lebih.

Senin, 11 April 2011

Coretan 12

Kearsipan dikenal banyak ditemui di instansi, lembaga, organisasi dengan skala cukup besar, entah di tingkat pusat maupun daerah, baik yg bersifat privat maupun milik pemerintah. Kesadaran akan pentingnya arsip hanya ditanamkan pada lingkup yang penulis sebutkan sebelumnya. Jika pun ada yang hingga tingkat individu, hanya sebatas perkara ijazah, sertifikat maupun surat2 berharga milik pribadi. Lalu bagaimana dengan lingkup organisasi atau lembaga mahasiswa maupun kepemudaan?Bukankah dari dua lingkungan itu juga bibit unggul tokoh penting di lingkup masyarakat hingga negara di bina? Sudah pahamkah mereka akan pentingnya arsip terutama bagi jalannya roda organisasi atau lembaga tempat mereka memperjuangkan idealismenya?

Organisasi atau lembaga mahasiswa maupun kepemudaan dinilai cukup banyak berperan dalam roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Idealisme mahasiswa untuk membangun masyarakat yang lebih maju dan beradab, yang aksinya dikelola dalam suatu kelompok yang terlembaga hingga melahirkan perubahan yang cukup signifikan, tidak jarang justru lebih cekatan dan konkret dari para birokrat. Namun, acapkali semangat idealisme berlembaga, berorganisasi, beramal jama'i menjadi kendur, hingga hasil pahitnya adalah vakumnya suatu lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan dalam jangka waktu tertentu.

Apabila suatu ketika, ada generasi yang berniat menggerakkan dan menghidupkan kembali suatu lembaga atau organisasi, bukan tidak mungkin mereka akan bertanya banyak hal pada si pelaku sejarah secara langsung. Namun, mengetahui jejak langkah suatu organisasi atau lembaga, apalagi organisasi pergerakan, tidak hanya bertanya pada si pelaku sejarah. Di sinilah seharusnya peran arsip dan dokumentasi dimainkan. Dalam teori umum yang dikenal dalam bidang kearsipan, suatu organisasi atau lembaga pastilah memiliki tugas pokok dan fungsi, atau visi dan misi. Visi dan misi ini kemudian di break down menjadi kegiatan2 konkret yang diharapkan membawa banyak manfaat. Ketika suatu kegiatan dimunculkan, sudah pasti melibatkan serangkaian proses administrasi, seperti penyusunan proposal kegiatan, tata persuratan (yang terjadi selama organisasi itu mewujud), transaksi2 finansial maupun non-finansial, notulen2 rapat, dan sebagainya. Hasil dari proses administrasi itu sebagian besarnya menjadi arsip lembaga atau organisasi. Bahkan ketika kegiatan itu dimulai, ada proses pendokumentasian seperti foto dan video. Hingga pada akhir kegiatan maupun kepengurusan lembaga, ada rangkaian pembuatan laporan pertanggungjawaban. Serangkaian proses tadi tentu tidak berjalan sekali dua kali, tapi selama lembaga atau organisasi itu ada, eksis, mewujud, selama itu pula kearsipan terus ada di dalamnya.

Lembaga atau organisasi mahasiswa maupun kepemudaan yang kurang paham atau kurang menyadari dan bahkan tidak tahu masalah kearsipan maupun tata administrasi akan berakibat sangat fatal. Meski generasi baru memiliki semangat berjuang untuk menghidupkan organisasi atau lembaga, tapi mereka tidak memahami jalan gerak organisasinya di masa lampau, tanpa peta, bukan tidak mungkin eksistensi lembaga atau organisasi hanya berusia pendek. Pengabaian terhadap arsip, dokumentasi sama dengan pengabaian terhadap sejarah...

Senin, 04 April 2011

Coretan 11

Banyak anak, banyak rejeki
Menurut manusia modern saat ini, statement itu sangat tidak tepat. Aktivitas mendidik anak dianggap sesuatu yang tidak komersil dan membuang-buang waktu. Punya anak satu saja sudah kepayahan mengurusnya, apalagi sampe 10 anak sekaligus. Konteks ini akan penulis perluas dengan lingkup negara. Suatu negara dengan wilayah yang cukup luas, ditambah laju pertumbuhan penduduk yang luar biasa tinggi, hingga akhirnya beberapa dekade yang telah lewat, pemerintah menerapkan program KB. Dua anak cukup!

Harapan program KB atau penahanan laju pertumbuhan penduduk secara kuantitas adalah agar terjadi keseimbangan antara alam dengan populasi manusia. Jika populasi manusia tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin akan merusak keseimbangan alam. Tentu saja, statement itu menurut versi penggagas KB.

Kita mungkin pernah mendengar statement salah satu tokoh besar dunia, Mahatma Gandhi. Bumi ini akan selalu cukup memenuhi kebutuhan manusianya, tapi bumi tidak akan pernah cukup bagi manusia serakah!Permasalahan yang ditekankan manajemen sumber daya manusia versi Mahatma Gandhi bukan pada pengendalian jumlah penduduk, tapi pada peningkatan kualitas manusianya. Kualitas disini tentu tidak hanya diukur menurut versi pemikiran2 western yang menekankan pada materi, tapi juga peningkatan untuk tujuan ukhrawi. Orang pintar sudah banyak, tapi kebanyakan juga keblinger karena pintarnya tidak dibarengi dengan peningkatan ukhrawinya. Cerdas, tapi licik. Mengelola sumber daya manusia versi barat, jika kita kaji lebih mendalam, akan berujung pada penekanan aspek keserakahan akan dunia.Silahkan cek.