Pinjam, meminjam, pinjama, apapun imbuhan yang dilekatkanpada kata pertama yang saya tulis, memang bisa menimbulkan multi tafsir. Kadangkala positif, lain waktu bisa jadi negatif, apalagi jika dikaitkan dengan uang. Ada satu cerita dari rangkaian mozaik dalam novel Ranah 3 Warna yang mengupas sisi negatif dari kata "meminjam". Sebuah kata yang akhirnya merenggangkan persahabatan dalam waktu sekian detik. Meski dalam beberapa mozaik selanjutnya, kerenggangan itu bisa kembali dieratkan.
Pinjam, meminjam, memang berimbas pada rasa ketergantungan, dan sering berdampak sangat mengerikan. Lihat saja negara-negara yang menggantungkan diri pada kata pinjam, lebih tepatnya "pinjaman". Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, lihat saja Indonesia. Sudah pinjamannya menggunung, tapi manfaat pinjaman itu seperti tak terasa hingga akar rumput. Pinjaman yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang sebaiknya digunakan untuk membuat sesuatu yang bisa menghasilkan lebih dari pinjaman, malah dikorupsi. Lebih banyak dihamburkan untuk sesuatu yang jauh dari kata "berguna" dan "bermanfaat". Gali lubang, tutup lubang.
Pinjam, meminjam, pinjaman, tentu saja tidak diharamkan. Tapi menurut saya, ini menjadi jalan terakhir, dan harus benar-benar dipertimbangkan positif negatifnya bagi peminjam, pihak yang dipinjam, dan sesuatu yang dipinjam, agar lebih banyak kemanfaatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar