Laman

Kamis, 10 Februari 2011

Coretan II

Beberapa opsi penyelesaian masalah Ahmadiyah mulai bermunculan. Namun dari sekian banyak opsi, yang paling menggelikan adalah membiarkan Ahmadiyah tetap ada tanpa ada usaha meluruskan pemahaman mereka yang menyimpang tentang Rasulullah SAW. Salah satu surat kabar terbitan hari ini pun menerbitkan opini salah satu cendekiawan nasional yang sangat kontraproduktif.

Lagi-lagi atas nama HAM yang banyak digaungkan negara-negara sekuler menjadi alasan Ahmadiyah tetap dibiarkan eksistensinya. Ahmadiyah memang tidak melakukan kekerasan fisik, tak pernah mengusik eksistensi perangkat negara, apalagi mengobrak-abrik dasar-dasar negara (Pancasila cs), tapi Ahmadiyah secara sadar sudah melakukan kekerasan ruhani, memukul jantung umat Islam yang meyakini Rasulullah Muhammad sebagai nabi penutup, merobek-robek hukum Tuhan(Allah SWT). Mungkin akan menjadi lain masalah jika si pencetus Ahmadiyah ini hanya menyatakan diri sebagai ulama, imam suatu mazhab, tanpa embel-embel "nabi" atau "kenabian".

Demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, tetapi ketika perbedaan pandangan tersebut sudah menyimpang dari firman Tuhan, masih pantaskah disebut demokrasi?Manusia zaman sekarang sudah layaknya Fir'aun yang berani menganggap dirinya Tuhan (atau setara dengan kedudukan Tuhan). Memang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai atau setara dengan Tuhan, melainkan melalui hukum, akal yang melahirkan gagasan untuk menantang Tuhan bahwa manusia juga bisa berbuat sebagaimana Tuhan bertindak!Astaghfirullah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar