Judi, judi, judi....
Makin lama, Indonesia bisa jadi negara judi. Program undian berhadiah, uang kontan terutama, tak lagi dimiliki produsen2 barang atau makanan dan minuman saja. Siapapun bisa membuat program undian ini. Apalagi sekarang sudah zamanny "sms". Hanya dengan bermodal sms beberapa ratus atau ribuan rupiah, kita dijanjikan hadiah uang tunai hingga milyaran rupiah. Bahkan, peserta tidak hanya dari kalangan tertentu, siapapun bisa, wong modalnya cuma hape yang berisi pulsa, kirim sms ke nomor sekian, tinggal tunggu keajaiban saja, apakah kita termasuk yang menjadi OKB.
Program undian berhadiah dan sejenisnya (yang menawarkan uang bin fulus tanpa harus bekerja keras), sudah sejak dulu mendapat restu dari pemerintah. Kalau kawan2 penggemar novel Bang Tere-Liye, mungkin masih ingat kisah Burlian. Anak yang masih duduk di bangku kelas 4(kalau tidak salah) sudah berani mencuri uang milik Mamaknya hanya karena selembar kupon SDSB (program pemerintah di era orde baru, bisa dibaca lengkapnya di novel Burlian), dan tentu saja sensasi yang dirasakan ketika menunggu pengumuman siapa yang beruntung, lebih dari sensasi yang dirasakan ketika kita menunggu hasil ujian CPNS, misalnya.
Tidak sedikit juga pemerintah daerah yang pendapatan daerahnya diperoleh dari judi (dengan segala sinonimnya). Ini sama artinya, secara tidak langsung, pemerintah sudah memberikan izin agar penyakit "malas untuk bekerja keras" menggerogoti mental bangsa. Padahal Allah sudah mengingatkan,
Artinya: "Wahai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamr (minuman keras) berjudi ( berkorban utk ) berhala & mengundi nasib dg anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras & judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu & menghalangi kamu dari mengingat Allah & melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? (Al-Maa-idah: 90-91)"
Ah negara kita khan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila, bukan berdasakan Al Qur'an maupun hadist. hmmm....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar